INVESTIGASI: Batu Karang Hidup Kembali Dipakai untuk Tangkis Laut, Warga Minta Pemerintah Bertindak

Sederetan tumpukan batu karang hidup persiapan pembangunan tangkis laut tahun 2026. (Foto: Dok)

Suaranusantara.online

Bacaan Lainnya

SAPANGKUR KECIL, SUMENEP – Pemandangan mengkhawatirkan tertangkap di bibir pantai Pulau Sapangkur Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Tumpukan batu karang yang tampak masih baru dicongkel dari laut telah disiapkan di tepi pantai, diduga sebagai material untuk proyek lanjutan pembangunan tangkis laut yang anggarannya masuk dalam program tahun 2026.

Padahal, tangkis laut yang dibangun pada tahun 2025 dengan material serupa telah porak-poranda dihantam gelombang angin barat pada awal Februari 2026 – dan hingga kini dibiarkan terbengkalai tanpa ada langkah perbaikan maupun pemeliharaan dari pihak berwenang.

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keprihatinannya secara langsung saat ditemui di lokasi, Minggu, 27 April 2026.

“Itu batu karangnya sudah siap di bibir pantai untuk pembangunan lanjutan tangkis laut,” ungkap warga tersebut sambil menunjuk tumpukan batu karang yang kondisinya masih segar, baru dicongkel dari dasar laut.

Ia menegaskan, selama material yang digunakan tetap batu karang hidup, maka umur bangunan tangkis laut tidak akan pernah bertahan lama.

“Itu fakta 99 persen. Semua pembangunan tangkis laut di Pulau Sapangkur Kecil hancur dalam hitungan minggu. Tapi pihak yang berwenang tutup mata,” tegasnya dengan nada kecewa.

Warga Pulau Sapangkur Kecil bahkan secara terbuka membandingkan kondisi tangkis laut mereka dengan pembangunan serupa di Pulau Saebus yang letaknya bersebelahan. Di Pulau Saebus, konstruksi tangkis laut terbukti mampu bertahan bertahun-tahun.

“Di Pulau Saebus, tangkis lautnya tahan bertahun-tahun. Ternyata memang menggunakan batu belah atau batu gunung,” ungkap warga membandingkan secara gamblang.

Perbandingan ini semakin mempertegas pertanyaan besar yang menggantung di benak masyarakat: mengapa batu karang hidup masih terus digunakan, sementara batu belah dan batu gunung tersedia cukup melimpah di Pulau Sapangkur Kecil sendiri?

Kecurigaan warga mengarah pada selisih harga yang mencolok. Batu karang dikabarkan hanya dihargai sekitar Rp110.000 per meter kubik – jauh lebih murah dibandingkan batu belah atau batu gunung.

Selisih harga inilah yang oleh sebagian warga diduga menjadi alasan tersembunyi mengapa material rapuh ini terus dipilih, meski sudah berulang kali terbukti gagal menahan hempasan ombak.

Jika benar demikian, maka proyek tangkis laut ini bukan sekadar kelalaian teknis – melainkan berpotensi menjadi indikasi penyimpangan dalam pengadaan material yang merugikan keuangan negara sekaligus menghancurkan ekosistem laut secara nyata.

Di balik masalah konstruksi yang berulang, ada dampak ekologis yang tak kalah serius. Penggunaan batu karang hidup sebagai material bangunan secara masif berpotensi merusak ekosistem terumbu karang di perairan Kecamatan Sapeken – yang dikenal sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati laut yang kaya.

Terumbu karang yang dicongkel paksa dari laut tidak hanya menghilangkan habitat ikan dan biota laut lainnya, tetapi juga melemahkan fungsi alami ekosistem pesisir sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang tinggi – ironi yang dalam, mengingat tujuan tangkis laut itu sendiri adalah melindungi pantai.

Kini, warga Pulau Sapangkur Kecil menyuarakan harapan yang sudah lama terpendam: mereka meminta Pemerintah Kabupaten Sumenep maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk turun langsung ke lapangan dan menyaksikan sendiri kerusakan yang terjadi – baik pada infrastruktur tangkis laut yang berkali-kali hancur, maupun pada kondisi terumbu karang yang terus dieksploitasi.

Mereka ingin ada evaluasi menyeluruh terhadap spesifikasi material yang digunakan dalam setiap proyek infrastruktur pesisir di Kecamatan Sapeken, serta pengawasan ketat agar anggaran pembangunan tidak terus mengalir sia-sia ke proyek yang sudah dapat diprediksi akan gagal.

(GUSNO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *