PANGKALPINANG — Di bawah langit cerah Rabu pagi (15/10/2025), halaman Balai Besar Betason di Gedung Tudung Saji Kantor Wali Kota Pangkalpinang tampak ramai. Para pejabat, tokoh masyarakat, dan tamu undangan memenuhi aula besar tempat berlangsungnya pelantikan pasangan pemimpin baru Kota Pangkalpinang — Prof. Saparudin dan Dessy Ayutrisna.
Dengan suara lantang namun teduh, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani memimpin prosesi pengambilan sumpah jabatan. Tepuk tangan panjang pun mengiringi, menandai dimulainya babak baru kepemimpinan ibu kota provinsi itu untuk lima tahun ke depan.
“Alhamdulillah, kami bersyukur hari ini resmi dilantik. Besok kami sudah mulai bekerja, ada rapat paripurna,” ujar Prof. Saparudin — atau akrab disapa Prof Udin — sesaat setelah pelantikan. Tak ada jeda panjang untuk euforia; semangat bekerja justru menjadi penegasan dari awal masa jabatannya.
Pasangan Prof Udin–Dessy datang dengan visi besar: menjadikan Pangkalpinang sebagai kota cerdas, inklusif, dan berbudaya. Sebuah visi yang berangkat dari kesadaran bahwa modernisasi tidak cukup diukur dengan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga dengan keseimbangan sosial serta penghargaan terhadap nilai-nilai budaya masyarakat.
Dalam 100 hari pertama, keduanya bertekad menjalankan program prioritas yang menyentuh langsung kehidupan warga — mulai dari penguatan sektor UMKM, peningkatan kesehatan masyarakat, hingga penanganan kebersihan dan lingkungan.
“Program-program ini penting, apalagi dalam waktu dekat kita harus siap menghadapi musim hujan,” kata Prof Udin. “Bersama OPD, kami akan turun langsung bergotong royong membersihkan kota agar terhindar dari banjir.”
Langkah cepat ini, menurutnya, bukan hanya simbol kerja awal, melainkan bentuk komitmen bahwa pemerintah hadir secara nyata. Ia ingin agar gerakan kebersihan kota tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi kebiasaan bersama yang tumbuh dari kesadaran warga.
Selain itu, Prof Udin juga menegaskan arah pembangunan yang berbasis pada lingkungan dan teknologi. Ia menyebut Pangkalpinang akan dikembangkan sebagai kota modern yang tetap menjaga akar budayanya.
“Kita ingin Pangkalpinang jadi kota yang smart, dengan masyarakat yang cerdas dan pembangunan yang inklusif. Kota yang nyaman untuk semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari komitmen itu, ia juga berencana meninjau kembali berbagai program yang telah berjalan agar lebih tepat sasaran dan berdampak langsung. “Kita akan review program yang ada, supaya prioritas pembangunan benar-benar menyentuh kepentingan masyarakat,” tambahnya.
Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, yang mendampingi Prof Udin selama kampanye dan kini di kursi pemerintahan, menyampaikan rasa syukurnya atas amanah besar yang dipercayakan masyarakat.
“Setelah melewati proses panjang, kini tugas kami baru dimulai,” kata Dessy. “Mohon doa agar kami dimudahkan dalam menjalankan tanggung jawab ini dan mampu memenuhi harapan masyarakat.”
Dessy menambahkan, pembagian tugas antara dirinya dan Wali Kota akan dibahas dalam waktu dekat agar program-program kerja dapat berjalan efektif. “Masih banyak yang harus disiapkan, tapi kami siap bekerja keras dan saling melengkapi,” ujarnya.
Bagi masyarakat Pangkalpinang, pelantikan Prof Udin dan Dessy bukan hanya pergantian kepemimpinan, melainkan momentum harapan baru. Harapan tentang kota yang lebih bersih, lebih tertata, lebih inklusif, dan berdaya saing — tanpa kehilangan identitas budayanya.
Di penghujung acara, setelah musik dan doa penutup mengalun lembut di aula Betason, Prof Udin dan Dessy berdiri di depan para tamu undangan, menundukkan kepala, lalu saling berjabatan tangan. Tak ada pesta besar, hanya janji kerja dan tanggung jawab yang menanti esok hari.
Karena bagi keduanya, pelantikan bukan akhir perjuangan — melainkan awal dari kerja panjang untuk mewujudkan Pangkalpinang yang cerdas, inklusif, dan berbudaya.








