PANGKALPINANG – Bagi sebagian orang, mengisi bahan bakar mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun dalam beberapa hari terakhir, kondisi itu berubah bagi banyak warga Bangka Belitung.
Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan mengular sejak pagi. Sebagian warga bahkan harus menunggu hingga dua jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.
Situasi ini menjadi perhatian DPRD Babel setelah banyak laporan masuk dari masyarakat.
Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya mengaku mendengar langsung berbagai keluhan saat berdialog dengan warga yang sedang mengantre.
Ada orang tua yang terlambat mengantar anak ke sekolah. Ada pekerja yang harus datang terlambat ke kantor. Bahkan ada warga yang memilih memarkir kendaraannya karena tidak berhasil mendapatkan BBM.
“Anaknya harus masuk sekolah jam tujuh, tetapi orang tuanya masih mengantre di SPBU. Ada juga yang tidak bisa bekerja karena kendaraan tidak ada bahan bakar,” ungkap Didit dalam RDP bersama Pertamina.
Bagi pengemudi ojek, keterlambatan mendapatkan BBM berarti berkurangnya pendapatan harian. Bagi pelaku usaha kecil, kendaraan yang tidak bisa beroperasi berarti terganggunya distribusi barang dan layanan.
Di tengah situasi tersebut, berbagai spekulasi bermunculan. Ada yang khawatir stok BBM menipis, ada pula yang memilih membeli lebih banyak sebagai cadangan.
Pertamina sendiri memastikan pasokan BBM dalam kondisi aman. Namun kekhawatiran masyarakat yang memicu pembelian secara bersamaan membuat antrean semakin panjang.
Di balik deretan kendaraan yang mengular, tersimpan cerita tentang aktivitas yang tertunda, pekerjaan yang terganggu, dan waktu yang terbuang.
Kini masyarakat berharap kondisi segera kembali normal. Sebab bagi mereka, persoalan BBM bukan sekadar soal bahan bakar, melainkan urat nadi aktivitas sehari-hari yang menentukan kelancaran kehidupan.








