Tegaskan Transparansi, Kepsek SMAGA: “Tidak Ingin Ada Dusta di Antara Kita” Soal Dana BOSP

Suaranusantara.online

SUMENEP – Bukan sekadar janji di atas panggung. Di hari keempat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah SMA Negeri 3 Sumenep (SMAGA), komitmen transparansi yang disampaikan Kepala Sekolah Hj. RA. Hari Utami Dewi, S.Ag., M.Pd., langsung dibuktikan lewat aksi nyata – bukan sekadar retorika.

Bacaan Lainnya

Sebelum bicara soal dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), ia lebih dulu mengajak seluruh orang tua siswa berkeliling melihat sendiri kondisi sekolah apa adanya.

Momentum ini berlangsung dalam rangkaian MPLS bertema “Sinergi Sekolah dan Orang Tua dalam Mewujudkan Generasi Berkarakter, Kreatif, dan Peduli Lingkungan”, sekaligus sosialisasi program satuan pendidikan SMAN 3 Sumenep.

Rangkaian kegiatan hari itu juga diwarnai momen haru sekaligus membanggakan, yakni seremonial serah terima peserta didik baru dari orang tua kepada pihak sekolah.

Momen ini menjadi simbol dimulainya tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah dalam mendidik dan membentuk karakter anak.

Tak hanya itu, dalam kesempatan yang sama, pihak sekolah turut memberikan bantuan seragam gratis kepada siswa berpartisipasi serta kepada siswa dari keluarga tidak mampu.

Bantuan tersebut diserahkan langsung dan diterima oleh wali murid, sebagai bentuk kepedulian sekolah agar tidak ada siswa yang tertinggal haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena keterbatasan ekonomi.

Momen ini sekaligus mempertegas semangat SMAGA, bahwa pendidikan berkualitas dan berkarakter harus bisa dinikmati oleh semua siswa, tanpa terkecuali, sejalan dengan prinsip keterbukaan dan keberpihakan sekolah kepada masyarakat yang terus digaungkan Bu Dewi sepanjang kegiatan MPLS Ramah.

Wanita muda berbakat yang akrab disapa Bu Dewi ini tampil dengan gaya khasnya yang nyentrik, menyapa para orang tua dengan antusiasme tinggi.

Namun di balik keramahannya, ia tak segan blak – blakan soal kondisi riil sekolah.

“Insya Allah, bapak ibu tadi sudah melewati dan berkeliling di seputaran sekolah, supaya bapak ibu tau bagaimana sebenarnya keadaan SMA Negeri 3 Sumenep, mulai dari lahan parkir yang sangat terbatas yang sangat perlu direnovasi atau diperbaiki,” ungkapnya, Kamis (16/07/2026).

Langkah mengajak orang tua berkeliling langsung ini menjadi bukti pertama: sekolah tidak menutup – nutupi kekurangan fasilitas, sekalipun itu berarti mengakui adanya keterbatasan di depan publik.

Selain kekurangan, orang tua juga diajak menyaksikan sendiri capaian sekolah yang selama ini mungkin hanya terdengar sebagai kabar.

Kebun Mandiri SMA NEGERI 3 Sumenep “Pello Koneng” , SIKAP ( Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan). (Foto: Doc).

Salah satunya Kebun Sikap (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) bernama “Pello Koneng”, karya mandiri sekolah yang diresmikan Dinas Pendidikan Jawa Timur dan meraih nominasi tingkat Jawa Timur sebagai peringkat terbaik, bahkan mengantarkan seorang siswa kelas XII SMAGA menyandang predikat Duta Terbaik se-Jawa Timur.

Prestasi ini bukan klaim di atas kertas, sebab program Sikap di SMAGA benar-benar berjalan dalam empat bidang yang bisa dilihat langsung hasilnya:

  • Pertanian – pengembangan berbagai jenis tanaman yang tumbuh di lahan sekolah.
  • Perkebunan – panen buah-buahan nyata seperti pisang dan rambutan.
  • Peternakan – ayam-ayam yang sehat dan terawat, bisa disaksikan langsung kandangnya.
  • Perikanan – budidaya ikan lele yang telah benar – benar dipasarkan ke tengah masyarakat.

“Sekolah kami tidak hanya menanamkan ilmu pengetahuan, tapi juga karakter jiwa kewirausahaan,” tegas Bu Dewi.

Ilmu yang diajarkan langsung dipraktikkan melalui pembelajaran kontekstual, dan hasilnya pun telah terbukti diterapkan siswa di rumah masing – masing, bukti bahwa program ini bukan formalitas, melainkan benar-benar mengubah kebiasaan anak.

Di balik seluruh pemaparan program, Bu Dewi menegaskan bahwa tujuan utama mengumpulkan para orang tua bukan sekadar seremoni tahunan.

Ia ingin membangun sinergi nyata antara sekolah dan keluarga, karena ia meyakini karakter anak dibentuk dari rumah, sementara sekolah hanya berperan sebagai penunjang.

“Karakter anak dari kecil hingga dewasa itu adalah dari rumah sebagai pondasi atau dasar utama,” ujarnya.

Kolaborasi ini, lanjutnya, tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh optimalisasi bakat dan minat siswa secara menyeluruh.

Setelah membangun kepercayaan lewat keterbukaan fasilitas dan pembuktian program secara langsung, Bu Dewi kemudian masuk ke inti persoalan yang paling ditunggu banyak orang tua: pengelolaan dana BOSP.

Ia tidak hanya berjanji secara lisan, tetapi langsung menghadirkan mekanisme nyata: para wakil kepala sekolah, terutama bendahara sekolah, akan memaparkan penggunaan dana BOSP secara terbuka, langsung di hadapan seluruh orang tua yang hadir – bukan di ruang tertutup, bukan hanya di atas kertas laporan.

“Saya ingin sekolah kita dananya transparan, kami tidak mau menyembunyikan apa yang terjadi di sekolah kita, karena kami tidak ingin ada dusta di antara kita,” tegas Bu Dewi, disambut tepuk tangan dan anggukan setuju para orang tua yang hadir.

Pernyataan ini menjadi puncak dari rangkaian bukti yang dibangun sejak awal pertemuan: mulai dari keterbukaan mengakui kekurangan fasilitas, menunjukkan prestasi yang bisa diverifikasi langsung, seremonial serah terima peserta didik dan bantuan seragam gratis kepada siswa berpartisipasi dan siswa dari keluarga tidak mampu, hingga akhirnya membuka pintu selebar – lebarnya bagi orang tua untuk mengetahui ke mana saja dana BOSP digunakan.

MPLS Ramah tahun ini membuktikan bahwa transparansi bukan hanya slogan di atas panggung.

Dengan mengajak orang tua melihat langsung kondisi sekolah, memaparkan prestasi yang nyata, memberikan bantuan seragam gratis kepada siswa berprestasi dan tidak mampu, serta membuka laporan keuangan secara terbuka melalui bendahara sekolah, SMAN 3 Sumenep menunjukkan bahwa apa yang disampaikan kepala sekolah bukan sekadar retorika – melainkan komitmen yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Langkah ini patut diapresiasi, terlebih di tengah sorotan masyarakat terhadap pengelolaan dana pendidikan di berbagai daerah.

(GUSNO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *