Suaranusantara.online
KOTA CIREBON — Sedikitnya 106 warga yang terdiri dari siswa SD, anak-anak TK, Balita Posyandu, hingga guru di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (20/10/2026).
Para korban mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, pusing, hingga diare.
Penyebab dugaan keracunan tersebut disinyalir berasal dari salah satu menu yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yaitu sop dan telur puyuh yang diduga sudah mengalami penurunan kualitas atau berbau asam saat dikonsumsi.
Akibat kejadian tersebut, penanganan medis dilakukan secara tersebar di delapan rumah sakit di Kota Cirebon. Penanganan awal sempat terkonsentrasi di RS Siloam Putera Bahagia.
Namun, karena ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit tersebut mengalami over kapasitas, sebagian korban terpaksa dilarikan ke RS Ciremai dan Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati menggunakan seluruh armada ambulans yang ada di Kota Cirebon.
Salah seorang orang tua siswa, Dony Armando menuturkan, bahwa putranya mulai merasakan gangguan pencernaan sesampainya di rumah.
Kondisi fisik sang anak terus memburuk hingga sore hari, sehingga ia memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
“Ternyata di rumah sakit situasinya sudah sangat ramai oleh anak-anak dan orang tua dari SD lain,” ujar Dony kepada wartawan.
Hal senada disampaikan oleh Agus, orang tua siswa lainnya yang ditemui di RS Siloam Putera Bahagia. L
Berdasarkan cerita dari anaknya, hidangan telur puyuh dalam menu MBG hari itu memang terindikasi sudah tidak layak konsumsi.
“Kalau menurut cerita anak saya, telur puyuh yang ada di dalam menu tersebut sudah terasa agak asam saat dimakan,” ungkap Agus.
Menanggapi kejadian ini, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pihak SPPG langsung turun ke lapangan untuk meninjau penanganan para korban di rumah sakit.
Berdasarkan hasil peninjauan, Effendi menyampaikan bahwa secara umum kondisi anak-anak yang mendapat perawatan medis relatif stabil. Sebagian pasien bahkan telah diperbolehkan pulang ke rumah.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada laporan anak yang mengalami kondisi kritis. Beberapa sudah membaik, bahkan ada yang sudah diperbolehkan pulang,” kata Effendi.
Ia menegaskan, bahwa keselamatan anak-anak menjadi prioritas utama pemerintah daerah dalam merespons insiden ini.
Pihaknya juga terus berkoordinasi secara intensif dengan rumah sakit terkait guna memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan medis yang optimal.
(Red)







