Suaranusantara.online
KABUPATEN BOGOR – Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat yang tahun ini (2026) kelas IX dinyatakan lulus 100 persen.
Sebagai wujud rasa syukur dan sukacita mereka mengadakan pentas panggung gembira yang sarat dengan makna untuk merayakan keberhasilan mereka.
Acara yang digelar di halaman sekolah pada Kamis (4/6/2026) tersebut mengangkat tema CANTIK (Ceria, Amanah, Nyunda, Tangguh, Inspiratif dan Kreatif).
Kepala Sekolah SMPN 3 Cibinong Wahyudin dalam sambutannya menyampaikan, bahwa acara kegiatan kelulusan atau perpisahan merupakan hal yang biasa, namun yang sangat krusial adalah nilai raport yang bagus.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, bahwa nilai raport bukan sekadar angka di atas kertas atau formalitas akhir semester, melainkan investasi masa depan. Artinya, nilai raport menjadi penyelamat.
Dengan nilai raport yang tinggi, siswa memiliki peluang besar untuk masuk ke sekolah favorit bisa lewat jalur prestasi.
Nilai raport yang konsisten bagus mencerminkan proses belajar yang stabil, disiplin, dan tanggung jawab dan kerja keras sangat dibutuhkan untuk bersaing di jenjang SMA, bahkan hingga perguruan tinggi nanti.
“Untuk para siswa agar belajar lebih serius. Soal acara kelulusan itu biasa lah. Tapi nilai di raport itu jadi pemicu untuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu di SMA,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana acara perpisahan Rini Hadiani (54) sekaligus orangtua murid dari Syahmil menjelaskan, para siswa di SMPN 3 Cibinong kelas IX dinyatakan lulus semua.
“Sebanyak 486 siswa dari 11 Rombel lulus semua,” ujarnya.
Dijelaskannya, para siswa yang lulus di tahun 2026 ini merupakan generasi yang kuat.
Bisa dibilang begitu, karena mereka menjalani masa-masa yang sangat dinamis. Mereka generasi yang dapat beradaptasi di tengah badai perubahan. Baik dari segi situasi global maupun sistem pendidikan nasional.
Perjalanan akademis mereka terasa begitu menantang sekaligus membentuk ketangguhan, misalnya, dapat menembus tembok Pandemi COVID pada waktu itu.
Masa-masa pandemi, jelas Rini, memaksa mereka yang saat itu mungkin masih di bangku SD atau awal SMP untuk langsung beralih ke metode PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).
Tanpa persiapan matang, mereka harus akrab dengan Zoom, Google Classroom, kendala kuota, hingga minimnya interaksi sosial langsung.
Melewati fase ini sudah barang tentu membutuhkan daya tahan mental yang tidak kecil.
Selain itu, dihadapkan pada transisi kurikulum yang estafet. Perubahan kurikulum yang bertubi-tubi menuntut fleksibilitas kognitif yang luar biasa dari para siswa.
Kurikulum 2013 (Kurtilas), misalnya. Kurikulum ini menekankan pada pendekatan saintifik dan penilaian autentik yang padat materi.
Mereka juga dihadapkan dengan Kurikulum Merdeka yang mengubah arah kendali dengan fokus pada materi esensial, fleksibilitas pembelajaran, dan pengorbanan hafalan demi pemahaman mendalam.
Kemudian, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka yang memaksa siswa keluar dari zona nyaman kelas teori untuk membuat projek, berkolaborasi, dan berpikir kritis mengatasi masalah nyata di lingkungan sekitar. Ini yang sering disebut atau dikaitkan sebagai aspek Pancasila dalam kurikulum baru).
Dengan demikian berganti kurikulum berarti berganti cara belajar, cara dinilai, dan cara mengatur waktu.
Jadi, siswa-siswi SMPN 3 Cibinong bisa menjalani semua fase tersebut dan tetap menunjukkan prestasi serta semangat belajar.
Sebutan generasi yang kuat menurut Rini, bukan sekadar isapan jempol, melainkan mereka sedang ditempa menjadi generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.
‘Kasihan sih ya melihat para orang tua yang merasa kesulitan dengan program atau dengan sistemnya yang sekarang itu. Tapi ya itu namanya generasi yang kuat ini dapat melewati dari Covid, Kurtilas (Kurikulum 2013/K-13), Kurikulum Merdeka, Pancasila. Kemudian MBG, TKA, SPMB. Udah lengkap nih..,” ungkapnya.
(mardioto)








