BMI Babel Gelar Renungan Malam Kudatuli, Ajak Generasi Muda Rawat Demokrasi dan Ingatan Sejarah

PANGKALPINANG – DPD Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Renungan Malam Kudatuli untuk memperingati Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli), Selasa malam.

Kegiatan tersebut dihadiri pengurus BMI, kader PDI Perjuangan, Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dessy Ayu Trisna, unsur Forkopimda, perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta sejumlah insan pers.

Dalam sambutannya, Ketua DPD BMI Bangka Belitung, Bayu Hardianto, mengatakan peringatan Kudatuli menjadi momentum penting untuk merawat ingatan sejarah sekaligus menjaga nilai-nilai demokrasi yang telah diperjuangkan oleh banyak pihak.

“Kudatuli mengajarkan kita tentang bagaimana demokrasi yang kita rasakan hari ini lahir dari perjuangan yang tidak mudah. Karena itu generasi muda tidak boleh melupakan sejarah,” kata Bayu.

Menurutnya, peristiwa Kudatuli harus menjadi pelajaran bagi generasi muda agar tidak membiarkan praktik-praktik penindasan kembali terjadi di masa depan.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga demokrasi dan terus mengingat berbagai peristiwa yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

“Kita generasi muda Bangka Belitung tidak boleh lupa. Demokrasi harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Sebelum kegiatan renungan dimulai, BMI Bangka Belitung juga melakukan aksi sosial dengan mengunjungi seorang anak korban kekerasan yang sedang menjalani pengobatan. Bayu menyebut pihaknya berkomitmen membantu proses pengobatan dan pendidikan anak tersebut bersama Komisi I DPRD Kota Pangkalpinang.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayu Trisna, yang hadir mewakili Wali Kota Pangkalpinang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, Kudatuli merupakan bagian penting dari sejarah demokrasi Indonesia yang harus terus diingat oleh generasi saat ini.

“Sejarah Kudatuli menjadi pengingat bahwa pernah terjadi perjuangan demokrasi di negeri ini. Kita harus belajar dari sejarah dan menjaga kondusivitas agar masyarakat dapat hidup lebih maju dan lebih baik,” ujar Dessy.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan partai politik untuk bersama-sama menjaga persatuan, menciptakan suasana yang aman, serta memperkuat demokrasi yang sehat.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersatu demi kemajuan masyarakat dan menjaga kehidupan demokrasi yang damai serta kondusif,” katanya.

Kegiatan Renungan Malam Kudatuli diisi dengan pembacaan puisi, orasi kebangsaan, refleksi sejarah, serta diskusi mengenai pentingnya menjaga demokrasi dan hak-hak masyarakat.

Para peserta juga diajak untuk mengenang perjuangan para tokoh dan aktivis yang menjadi bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia, sekaligus meneguhkan komitmen agar nilai-nilai demokrasi tetap terjaga di Bangka Belitung maupun Indonesia secara umum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *