Merawat Ingatan di Malam Kudatuli

Malam itu tidak ada panggung megah. Tidak ada gegap gempita yang biasa mengiringi sebuah perayaan politik. Yang ada hanya lingkaran orang-orang yang berkumpul, menyalakan ingatan, dan mencoba menyelamatkan sejarah dari ancaman lupa.

Di tengah suasana malam di Pangkalpinang, nama Kudatuli kembali disebut.

Bagi sebagian generasi muda, peristiwa 27 Juli 1996 mungkin hanya sepenggal catatan dalam buku sejarah. Sebuah peristiwa yang terasa jauh, seolah terjadi di zaman yang berbeda. Namun bagi mereka yang hadir dalam Renungan Malam Kudatuli yang digelar Banteng Muda Indonesia (BMI) Bangka Belitung, sejarah itu bukan sekadar cerita masa lalu.

Ia adalah pengingat.

Pengingat bahwa demokrasi yang hari ini dinikmati tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari perlawanan, keberanian, dan pengorbanan orang-orang yang memilih berdiri ketika tekanan memaksa mereka untuk diam.

“Jangan lupakan sejarah.”

Kalimat itu berulang kali terdengar sepanjang kegiatan. Sebuah pesan yang mengingatkan kembali ajaran Bung Karno tentang Jasmerah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Malam renungan itu dibuka dengan refleksi mengenai peristiwa Kudatuli, tragedi yang menjadi salah satu titik penting perjalanan demokrasi Indonesia. Para peserta diajak mengingat kembali bagaimana benturan politik pada masa itu meninggalkan korban jiwa, luka, hingga orang-orang yang dinyatakan hilang.

Bukan untuk membuka luka lama.

Melainkan untuk memastikan luka itu menjadi pelajaran.

Ketua DPD BMI Bangka Belitung, Bayu Hardianto, berdiri di hadapan peserta dengan suara yang sesekali meninggi oleh semangat. Baginya, Kudatuli bukan hanya kisah tentang masa lalu, tetapi tentang tanggung jawab generasi hari ini.

Menurut Bayu, demokrasi yang kini dirasakan masyarakat lahir melalui proses panjang yang tidak mudah. Karena itu, generasi muda tidak boleh tumbuh dalam amnesia sejarah.

“Kita tidak boleh lupa,” tegasnya.

Kalimat sederhana itu terdengar seperti sebuah peringatan.

Sebab lupa sering kali menjadi awal dari pengulangan.

Ketika sebuah bangsa melupakan sejarahnya, ia kehilangan kemampuan untuk mengenali kesalahan yang pernah terjadi. Dan ketika itu terjadi, sejarah berisiko kembali berulang dalam bentuk yang berbeda.

Namun malam itu tidak hanya berbicara soal masa lalu.

Ada cerita lain yang juga dibawa ke dalam forum renungan. Sebelum acara dimulai, BMI Bangka Belitung mengunjungi seorang anak korban kekerasan yang sedang menjalani pengobatan.

Kisah itu seolah menjadi penghubung antara sejarah dan realitas hari ini.

Bahwa perjuangan melawan penindasan tidak hanya berbicara tentang peristiwa puluhan tahun lalu. Ia juga hadir dalam bentuk-bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Penindasan bisa berubah wajah.

Kadang hadir dalam bentuk kekerasan.

Kadang hadir dalam bentuk ketidakadilan.

Kadang hadir dalam bentuk suara-suara yang tidak didengar.

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayu Trisna, yang hadir mewakili Wali Kota Pangkalpinang, mengingatkan bahwa peringatan Kudatuli seharusnya menjadi ruang refleksi bersama bagi seluruh elemen masyarakat.

Meski dikenal sebagai kader PDI Perjuangan, malam itu ia hadir sebagai wakil pemerintah daerah. Pesannya sederhana namun penting: demokrasi harus menghadirkan kedamaian, bukan perpecahan.

Menurutnya, sejarah perjuangan demokrasi perlu terus dikenang agar masyarakat dapat menjaga kehidupan yang kondusif serta memperkuat persatuan.

Pesan itu terasa relevan.

Di tengah era media sosial yang sering memecah ruang publik menjadi kubu-kubu yang saling berhadapan, demokrasi kerap disalahartikan sebagai pertarungan tanpa akhir.

Padahal demokrasi bukan tentang siapa yang paling keras berbicara.

Demokrasi adalah kemampuan untuk mendengar.

Kemampuan menerima perbedaan.

Kemampuan menjaga ruang agar semua suara dapat hidup berdampingan.

Menjelang akhir acara, puisi dibacakan. Orasi disampaikan. Ingatan kembali dipanggil satu per satu.

Malam semakin larut.

Namun semangat yang berkumpul di lokasi itu justru terasa semakin terang.

Barangkali itulah makna sebenarnya dari renungan.

Bukan sekadar mengenang apa yang telah berlalu.

Melainkan memastikan bahwa pelajaran dari masa lalu tetap hidup dalam tindakan hari ini.

Karena sejarah yang dilupakan akan menjadi arsip.

Tetapi sejarah yang diingat akan menjadi kompas.

Dan bagi mereka yang hadir malam itu, Kudatuli bukan hanya tentang 27 Juli 1996.

Ia adalah pengingat bahwa demokrasi harus terus dirawat.

Bukan hanya ketika sedang terancam.

Tetapi juga ketika semua orang merasa keadaan sudah baik-baik saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *