Malam itu, tidak ada teriakan massa. Tidak ada hiruk-pikuk demonstrasi. Tidak ada bentrokan seperti yang pernah tercatat dalam lembar sejarah 27 Juli 1996.
Yang ada hanyalah keheningan.
Namun justru dari keheningan itulah suara paling keras terdengar.
Suara itu datang dari budayawan Bangka Belitung, Agus Semprul, saat membacakan puisi berjudul “Kudatuli: Ketika Negara Takut Pada Suaranya Sendiri” dalam Renungan Malam Kudatuli yang digelar DPD Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Pangkalpinang.
Di hadapan kader partai, pemuda, tokoh masyarakat, hingga pejabat daerah yang hadir malam itu, Agus tidak sekadar membacakan puisi. Ia mengajak hadirin memasuki lorong panjang ingatan tentang demokrasi, kekuasaan, dan keberanian untuk bersuara.
“Katanya, waktu menyembuhkan segalanya. Tidak. Waktu hanya mengajari manusia cara menyembunyikan tangisnya.”
Kalimat pembuka itu langsung membuat suasana menjadi hening.
Para peserta yang sebelumnya berbincang perlahan memusatkan perhatian ke arah panggung. Beberapa menundukkan kepala. Sebagian lainnya menatap lurus ke depan.
Puisi itu seperti membawa mereka kembali pada sebuah peristiwa yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia: Kudatuli.
Peristiwa yang terjadi pada 27 Juli 1996 itu bukan sekadar benturan politik. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap pembungkaman suara dan menjadi salah satu titik penting lahirnya perubahan politik di Indonesia.
Namun bagi Agus Semprul, Kudatuli bukan hanya soal masa lalu.
Ia adalah pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini.
“Sejak kapan suara menjadi ancaman? Sejak kapan perbedaan pendapat lebih menakutkan daripada ketidakadilan?” demikian salah satu bait yang dibacakannya.
Pertanyaan itu melayang di udara tanpa perlu jawaban langsung.
Karena setiap orang tampaknya memiliki jawabannya sendiri.
Dalam puisinya, Agus menggambarkan bagaimana sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang menang. Ada suara-suara yang hilang. Ada korban yang namanya perlahan menghilang dari buku-buku sejarah. Ada keluarga yang tetap menyimpan ingatan meski waktu terus berjalan.
“Sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang. Sejarah adalah tentang siapa yang dipaksa diam,” ucapnya dengan nada yang semakin meninggi.
Malam itu, puisi menjadi lebih dari sekadar karya sastra.
Ia berubah menjadi ruang refleksi.
Ruang untuk mengingat bahwa demokrasi tidak tumbuh dari pujian, melainkan dari keberanian menerima kritik. Demokrasi tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan menghargai perbedaan.
Ketika memasuki bagian puisi yang mengkritik sikap antikritik dalam kekuasaan, suara Agus terdengar semakin tegas.
“Kekuasaan adalah amanah. Tetapi ketika kekuasaan merasa dirinya paling benar, maka kritik berubah menjadi ancaman. Pertanyaan berubah menjadi pemberontakan. Dan rakyat berubah menjadi lawan.”
Kalimat itu disambut tepuk tangan peserta.
Bukan karena mereka sedang merayakan sesuatu.
Melainkan karena mereka merasa sedang diingatkan.
Diingatkan bahwa sejarah tidak boleh hanya dikenang sebagai seremoni tahunan. Sejarah harus menjadi pelajaran yang hidup dalam kesadaran masyarakat.
Ketua DPD BMI Bangka Belitung, Bayu Hardianto, sebelumnya juga menegaskan bahwa peringatan Kudatuli bukan sekadar agenda organisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan upaya merawat ingatan kolektif agar generasi muda memahami perjalanan demokrasi yang telah dilalui bangsa ini.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayu Trisna, yang hadir mewakili Wali Kota Pangkalpinang, mengajak masyarakat menjaga demokrasi yang damai dan kondusif serta tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Pesan-pesan itu seolah menemukan gaungnya dalam puisi yang dibacakan Agus.
Di penghujung pembacaan, suasana kembali sunyi.
Kali ini bukan karena kata-kata yang keras.
Tetapi karena kalimat yang terdengar seperti harapan.
“Aku tidak ingin anak cucuku mewarisi ketakutan. Aku ingin mereka mewarisi keberanian.”
Keberanian untuk berkata benar.
Keberanian untuk mengingat.
Keberanian untuk memastikan bahwa demokrasi tidak hanya hidup dalam undang-undang dan pidato, tetapi juga dalam keberanian warga negara untuk bersuara.
Malam semakin larut. Acara perlahan berakhir.
Namun satu kalimat terakhir dari puisi Agus Semprul tampaknya masih tertinggal di benak para peserta saat mereka meninggalkan lokasi.
“Karena sejak manusia takut pada suara, di situlah demokrasi mulai kehilangan nyawanya.”
Dan malam itu, di tengah renungan tentang Kudatuli, ingatan kembali dinyalakan agar demokrasi tetap hidup.








