Tiga anggota dishub wilayah Kangean (Foto: Dok)
Suaranusantata.online
SUMENEP, JAWA TIMUR – Hari pertama arus mudik Lebaran Ketupat 1447 H di Pelabuhan Batu Guluk, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, berubah menjadi potret kemacetan parah yang melumpuhkan akses jalan hingga sepanjang 3 kilometer, Sabtu (28/3/2026).
Di tengah kekacauan lalu lintas tersebut, sorotan tajam tertuju pada kinerja petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang dinilai lebih fokus pada pemungutan retribusi ketimbang mengurai kemacetan.
Sejak pukul 05.00 WIB, ribuan warga dari Kecamatan Arjasa dan Kangayan telah membanjiri pelabuhan demi menaiki KMP Monggiyango Hulalo menuju Pelabuhan Kalianget.
Kemacetan di jalan raya desa Bilis-bilis (Foto: Dok)
Membludaknyakendaraan pengantar menyebabkan antrean mengular dari pintu masuk pelabuhan hingga menyentuh jalan raya Desa Bilis-Bilis.
Akibat manajemen arus yang tidak memadai, jadwal keberangkatan kapal yang seharusnya pukul 09.00 WIB terpaksa molor hingga 30 menit.
KMP Monggiyango Hulalo baru bisa bertolak pada pukul 09.30 WIB akibat akses keluar-masuk kendaraan yang terkunci total sedangkan keluarga pengantar masih terjebak di dalam kapal.
Pantauan di lapangan mengungkap pemandangan ironis. Di saat jalur utama menuju pelabuhan lumpuh total, tiga personel Dishub yang bertugas justru terlihat sangat intensif melakukan penarikan retribusi di pintu keluar.
Kepala Dishub Wilayah Arjasa, Matrawi, mengonfirmasi bahwa penarikan jasa pas masuk tersebut telah sesuai ketentuan, yakni:
Kendaraan Roda Dua: Rp 2.000
Kendaraan Roda Empat: Rp 5.000
”Pemungutan retribusi berjalan tertib dan seluruh pengguna kendaraan mematuhinya tanpa resistensi,” ujar Matrawi.
Memang benar, hampir 99% masyarakat menunjukkan kepatuhan tinggi dalam membayar retribusi. Namun, kepatuhan warga ini tidak dibayar tuntas dengan pelayanan pengaturan jalan yang mumpuni.
Masyarakat menyayangkan sikap reaktif petugas yang terkesan “semangat memungut, namun abai mengatur.”
Penumpukan kendaraan di dalam area pelabuhan hingga ke jalan raya menjadi bukti nyata lemahnya antisipasi Pemerintah Wilayah dan Dishub Arjasa terhadap lonjakan penumpang yang sudah terprediksi.
”Kami tertib membayar retribusi, tapi kami juga butuh jalan yang lancar. Jangan hanya antusias di loket pembayaran, tapi membiarkan jalanan macet total hingga 3 kilometer,” keluh salah satu pemudik di lokasi.
Mengingat gelombang mudik Lebaran Ketupat masih akan berlangsung beberapa hari ke depan, koordinasi lintas sektoral antara Dishub, aparat kecamatan, dan kepolisian mendesak untuk segera dibenahi. Warga menuntut kehadiran pemerintah secara proaktif agar skenario kemacetan serupa tidak terulang dan merugikan efisiensi waktu pelayaran.
(GUSNO)








