Meriahkan HJB ke 544, Alisa Khadijah ICMI Kabupaten Bogor Gelar Kajian Istimewa dan  Launching Kios Semir Sepatu

Suaranusantara.online

KABUPATEN BOGOR – Turut memeriahkan Hari Jadi Bogor (HJB) ke 544, Alisa Khadijah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Bogor menggelar Kajian Istimewa sekaligus launching Kios Semir Sepatu, di Masjid Agung Baitul Faizin, Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin (8/6/2026).

Bacaan Lainnya

Pada kegiatan tersebut terlihat jamaah sangat antusias memenuhi masjid dengan penuh keakraban sebagai wujud memastikan pentingnya mempererat tali silaturahmi.

Hadir mewakili Bupati Bogor, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor, H. Agus Salim Lc menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kajian istimewa tersebut, karena semuanya ikut andil memakmurkan Masjid Baitul Faidzin.

Ia berharap, agar para muslimah khususnya, terus berdaya dan berkarya, sehingga diharapkan langkah-langkahnya akan menjadi kontribusi terbaik bagi Kabupaten Bogor.

“Maka dari itu, khususnya para muslimah terus berdaya, terus berkarya, insyaallah langkah-langkah kita akan jadi langkah untuk memberikan kontribusi terbaik bagi Kabupaten Bogor,” ungkap sosok yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Kyai HAS itu.

Kegiatan kajian istimewa yang mengangkat tema “Muslimah Berdaya, Berdampak Nyata dan Berakhlak Mulia” tersebut menghadirkan ulama kondang yang biasa dengan julukan Ustadz Pantun, yakni KH. Taufiqurrahman.

Ketua Alisa Khadijah ICMI Kabupaten Bogor, Hj Dewi Puspasari dalam laporannya menjelaskan, bahwa kajian istimewa tersebut merupakan momentum sebagai bentuk kolaborasi antara Alisa Khadijah ICMI, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) Kabupaten Bogor dalam memeriahkan HJB ke 544 Tahun 2026.

“Kegiatan kajian istimewa memperingati HJB ke 544 Kabupaten Bogor kolaborasi antara Alisa Khadijah dengan DMI, DKM Masjid Baitul Faidzin dan BKMM,” ujarnya.

Pada kegiatan kajian istimewa tersebut, Alisa Khadijah ICMI Kabupaten Bogor juga melaunching kios semir sepatu.

Diharapkan, lanjut dia, program-program dari Alisa Khadijah tersebut sebagai upaya pemberdayaan kemakmuran masjid.

Selain itu, agar para pengusaha perempuan memberikan manfaat kepada perempuan lain dan menjadikan masjid sebagai ruang edukasi.

“Harapannya masjid di mana pun dapat berdaya sendiri, kemudian perempuan juga dapat berdaya dan kami memberikan training-training di saat ekonomi yang tidak baik-baik saja, kami dapat membuka lapangan pekerjaan untuk para perempuan,” jelasnya.

Ia menambahkan, peresmian kios semir sepatu ini juga kerjasama dengan clean sheet.

Menurutnya kios semir sepatu sudah di tiga masjid yang telah dijadikan percontohan.

Ia membayangkan sebuah situasi di mana jamaah yang datang ke masjid untuk shalat, tetapi juga bisa mendapatkan layanan semir sepatu pada waktu berbarengan.

“Bagaimana misalnya ada orang yang sedang ke masjid mau semir sepatu bisa sambil shalat sepatunya disemir,” ungkapnya.

Sehingga, kata dia, dengan adanya kios semir sepatu tersebut, bisa mendapatkan pendapatan yang nantinya masuk ke pengurus masjid dan marbot.

Sementara, Ketua DMI Kabupaten Bogor, H. Tb. Irwan Kurniawan menyampaikan apresiasi dengan adanya kegiatan kajian istimewa dan launching kios semir di masjid.

Menurutnya, ini merupakan langkah awal untuk menjadikan persatuan antara organisasi muslimah.

Ia berharap hal ini bisa dilakukan secara berkelanjutan.

“Karena peran wanita itu sangat penting, tidak hanya mengisi rumah tangganya saja, tapi bagaimana wanita ini turut serta dalam pembangunan di Kabupaten Bogor,” ungkapnya.

Kemudian, ia juga menyebut, terkait pemberian clean sheet semir sepatu di Masjid Baitul Faidzin dari Alisa Khadijah, merupakan bentuk bantuan untuk pemberdayaan para marbot di masjid.

Menurutnya, keberadaan kios semir sepatu merupakan bagian dari program kemasjidan.

Untuk mengubah pandangan masyarakat yang selama ini mengira masjid hanya sebagai tempat ibadah ritual belaka, ia menegaskan, bahwa masjid memiliki peran besar sebagai pusat pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

“Ini kan salah satu program, sebenarnya program kemasjidan. Bahwa masjid itu selama ini masyarakat menganggap, bahwa masjid itu hanya sebagai tempat ibadah saja, yaitu shalat, ngaji, dzikir, tapi di samping juga masjid itu punya peran penting sebagai pusat pemberdayaan umat, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, terpusat di masjid itu,” terangnya.

(mardioto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *