Kerjasama ditandatangani Kepala Balai Besar Rehabilitasi Narkotika dr. Elvina Katerin Sahusilawane Sp.K.J dan Pimpinan Yayasan Mitra Organik Program Jhon Tumiwa
Suaranusantara.online
KABUPATEN BOGOR – Patut berbangga bagi para korban penyalahgunaan atau pecandu narkoba yang sedang manjalani rehabilissi di Balai Besar Rehabilisasi Narkotika, Badan Narkotika Nasional (BNN).
Betapa tidak. Karena pasca rehabiitasi, mereka selain pulih juga memiliki masa depan yang lebih baik dengan bekal ilmu agribisnis, dari mulai bercocoktanan, pasca panen bahkan sampai menjajaki peluang pasarnya baik nasional maupun mancanegara.
Pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada klien-klien rehabilitasi tentang metode budidaya tanaman hidroponik yang menghasilkan komoditas organik yang sedang trend konsumen belakangan ini.
Metode tersebut diaplikasikan dengan kesesuaian tempat dan wilayah di Balai Besar Rehabilitasi Nakotika, Lido.
“Teknologinya ya nanti teknologi yang kita akan pakai menggunakan green house (rumah kaca) dengan teknologi-teknologi yang namanya smart farming,” ungkap Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama BNN RI, Irjenpol Drs. Agus Irianto, SH, MSI, MH kepada wartawan, usai Penandatanganan Perjanjian Kerjasamam antara Balai Besar Rehabikitasi Badan Narkotika Nasinal (BNN) dengan Yayasan Mitra Organik Program.
Penandatangan tersebut berlangsung di Balai Besar Rehabilitasi Narkotika, BNN di Desa Wates Jaya, Kec. Cigombong, Lido, Kab. Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin (21/7/2025).

Hadir pada penandatanganan kerjasama tersebut Deputi Bidang Hukum dan Kerja Sama BNN RI, Irjenpol Drs. Agus Irianto, SH, MSI, MH; Deputi Rehabilitasi yang diwakili oleh Direktur PLRIP dr. Amrita Devi MSi, Sp.K.J; Kepala Balai Besar Rehabilitasi Narkotika dr. Elvina Katerin Sahusilawane Sp.K.J; Pimpinan Yayasan Mitra Organik Program Jhon Tumiwa; Kepala Subdirektorat Kerjasama Nasional Ibnu Munzdakir S.Sos, MM; Plt. Dir. Pasca Rehab Essi Septia Erza SE; Karo Humpro atau yang mewakili; Wulan perwakilan dari Airnav Indonesia dan undangan.
Menurut Agus, teknologi tersebut mudah diadopsi oleh klien-klien rehabilitasi dari mulai awal sampai mereka mampu mengerjakan sendiri.
“Klien kami bisa belajar dari nol sampai dengan nantinya mereka bisa mandiri,” ujar Agus.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan, komoditas yang akan dibudidayakan sesuai kountur tanah di sana adalah komoditas yang cepat dan lambat dipanen, seperti tanaman sayur-sayuran, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Bahkan dikembangkan juga tanaman tahunan seperti, jenis tanaman keras vanila, misalnya.
“Jadi, supaya terus ada sistem agribisnis keberlanjutan jangka panjang (sustainable agribusiness),” jelasnya.
Namun untuk mencapai hasil yang baik, Agus menyatakan pentingnya keterlibatan semua pihak.
“Pada dasarnya BNN nggak bisa hidup sendiri. Kita perlu bekerjasama dengan berbagai stakeholder,” pungkasnys.
(mardioto)








