Kepala Kemenag Sumenep Dinilai tidak Becus Dalam Menyikapi Skandal Ijob MA Sabuntan

Abdul Wasit, Kepala Kemenag Kabupaten Sumenep

Suaranusantara.online

SUMENEP – Dugaan mafia skandal Penerbitan Izin Operasional (Ijob) Madrasah Aliyah Yayasan Rahmatul Ulum di Desa Sabuntan, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur setelah mencuat ke permukaan, kuat dugaan yang menjadi dalang utama mengarah pada sosok Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Abdul Wasit yang dinilai tidak becus dalam menyikapi persoalan.

Investigasi mendalam yang dilakukan tim media mengungkap modus operandi yang terstruktur dalam upaya menutupi jejak skandal ini. Abdul Wasit, yang seharusnya menjadi garda terdepan transparansi birokrasi, justru menampilkan perilaku yang sangat mencurigakan.

Kronologi penghindaran Abdul Wasit dimulai ketika media pertama kali menghubungi Bagian Ijob pada Rabu, 4 Juni 2025. Abol, petugas yang dihubungi, langsung “cuci tangan” dengan mengaku tidak memiliki kewenangan dan melempar tanggung jawab kepada Kasi Pendma. Edy Hariyanto. Namun, pihak Kasi Pendma pun memberikan jawaban yang mengambang dan tidak layak sebagai pejabat figur di Kementerian Agama.

Ketika media akhirnya berhasil menghubungi Abdul Wasit secara langsung, pola penghindaran semakin jelas terlihat, Jumat, 4 Juli 2025, “Saya masih di acara, nanti lagi ya,” jawaban singkat yang terkesan mengulur waktu, kemudian pada, Senin, 7 Juli 2025, Panggilan WhatsApp yang berdering tidak direspons, bahkan cenderung ditolak secara sengaja.

Investigasi ini tidak hanya mengungkap sikap tidak kooperatif Abdul Wasit, tetapi juga membongkar dugaan jejaring kolektif yang melibatkan, Kemenag Kabupaten Sumenep sebagai dalang utama dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sebagai pelindung sistem

Terbukti, surat konfirmasi resmi bertanggal 10 Juni 2025 yang dikirim media dialektika News kepada Ketua Yayasan Rahmatul Ulum dengan tembusan Kemenag Sumenep hingga kini “menguap” tanpa tanggapan – sebuah indikasi kuat adanya upaya systematic cover-up.

Ibnu Hajar, Divisi Hukum Lembaga Swadaya Masyarakat Alam Semesta Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Timur, mengalami perlakuan serupa. Upaya berkali – kali menghubungi Abdul Wasit hanya mendapat serangkaian janji kosong dengan dalih klasik, “ada acara” atau “ada rapat”

“Kepala Kemenag Sumenep tidak profesional dalam menjalankan tugas sebagai figur pejabat publik di Kementerian Agama Kabupaten Sumenep dan patut dievaluasi karena tidak becus,” tegas Ibnu Hajar dengan nada kecewa.

Skandal ini jauh melampaui pelanggaran prosedur biasa. Ini adalah ancaman sistemik terhadap kredibilitas pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di daerah terpencil seperti Sapeken.

Kasus ini bukan lagi dalam tahap “perlu diperhatikan”, ini adalah emergency yang mendesak tindakan tegas dari otoritas berwenang. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pendidikan Islam tidak bisa lagi ditunda dengan alasan “sedang ada acara” atau “nanti lagi ya”.

Masyarakat berhak mendapat jawaban, siapa yang bertanggung jawab atas skandal ijob MA Sabuntan? Dan kapan keadilan akan ditegakkan?

Waktu terus berjalan, sementara Abdul Wasit berlindung diketiak kalimat “masih sibuk” dengan acara – acaranya yang tidak jelas.

(GUSNO)

Pos terkait