Oleh: ADE HERLAMBANG
LAM-TENG,
Suaranusantara.Online-
Dalam perjalanan hidup berbangsa dan bermasyarakat, kita sering dihadapkan pada kenyataan yang tak selalu sejalan dengan harapan.
Seringkali tangan yang kita ulurkan untuk menolong justru disambut keraguan; niat tulus yang kita berikan dianggap ada kepentingan tersembunyi; dan pengorbanan yang kita curahkan luput dari perhatian, bahkan kadang berbalik dengan kecurigaan atau ketidakadilan. Namun justru di situlah ujian sejati dari sebuah kebaikan: apakah kita akan berhenti berbuat baik hanya karena penghargaan tak kunjung datang?
Kebaikan sejati tidak lahir dari harapan dipuji, tidak tumbuh dari keinginan diakui, dan tidak berdiri di atas syarat harus dibalas.
Jika kita berbuat baik hanya saat yakin akan dihargai, maka itu bukan lagi kebaikan murni, melainkan sebuah transaksi. Padahal esensi berbuat baik adalah tentang menjaga hati kita sendiri agar tetap manusiawi, tentang menjaga harmoni di tengah perbedaan, dan tentang menanam benih kebaikan yang mungkin tak kita petik buahnya hari ini, namun akan tumbuh memberi manfaat bagi orang lain kelak.
Kita melihat banyak kisah di sekitar kita: relawan yang bekerja siang malam tanpa pamrih membantu warga terdampak bencana, petugas yang melayani dengan tulus meski sering dimarahi, tokoh masyarakat yang merukunkan perselisihan namun kadang dicurigai kedua belah pihak, hingga warga biasa yang menolong tetangga namun tak pernah mendapat ucapan terima kasih.
Mereka tak berhenti, bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka paham: kebaikan adalah panggilan hati, bukan ajang pencarian nama.
Jika hari ini kebaikanmu tak dihargai, jangan biarkan kekecewaan mengubah hatimu menjadi dingin. Mungkin orang lain belum paham niatmu, mungkin keadaan belum mengizinkan mereka membalas, atau mungkin mereka memang belum mampu melihat nilai dari apa yang kau berikan.
Itu bukan alasan untuk ikut berbuat buruk, atau berhenti berbuat baik. Ingatlah, matahari tetap bersinar meski ada yang menutup mata; air tetap mengalir memberi kehidupan meski ada yang membuangnya sia-sia.
Dunia ini sudah cukup banyak dengan kebencian, kecurigaan, dan kepentingan semata. Jangan kau tambah jumlahnya dengan berhenti berbuat baik hanya karena merasa tak dihargai. Jadilah seperti lilin: ia tak berhenti menyala hanya karena ada yang mengeluh cahayanya kurang terang. Ia tetap memberi cahaya sekuat yang ia mampu.
Mari kita tetap berbuat baik, dengan tulus, tanpa menghitung balasan. Karena balasan terindah dari sebuah kebaikan bukanlah pujian atau imbalan, melainkan hati yang tenang karena telah melakukan hal yang benar. Dan percayalah, meski manusia lupa atau tak mampu menghargai, setiap tetes kebaikan yang kau berikan tak akan pernah hilang sia-sia.
*Jangan pernah lelah berbuat baik. Karena kebaikan itu sendiri adalah hadiah terindah yang kau berikan kepada dunia, sekaligus untuk dirimu sendiri.*#*#








