Kapolda Babel: Puisi Adalah Suara Hati Masyarakat, Polri Harus Mampu Mendengar Kritik dengan Jujur

PANGKALPINANG – Suasana Lapangan Bhaypark, Kota Pangkalpinang, Minggu (19/7/2026) malam, tak hanya dipenuhi antusiasme masyarakat yang berkumpul menyaksikan nonton bareng Final Piala Dunia 2026. Malam itu juga menjadi ruang refleksi bagi jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Bangka Belitung melalui rangkaian kegiatan Sastra Bhayangkara dalam menyambut Hari Bhayangkara.

Kapolda Kepulauan Bangka Belitung dalam sambutannya mengapresiasi seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada panitia, pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat yang hadir memeriahkan malam kebersamaan itu.

Menurut Kapolda, berbagai kegiatan telah dipersiapkan sejak sore hari, mulai dari turnamen mini soccer hingga pentas sastra yang menjadi bagian dari rangkaian acara sebelum masyarakat bersama-sama menyaksikan pertandingan Final Piala Dunia hingga dini hari.

“Mudah-mudahan kebersamaan malam ini menjadi momentum mempererat hubungan antara Polri dengan seluruh masyarakat Bangka Belitung,” ujarnya.

Kapolda juga memberikan apresiasi khusus kepada budayawan Ahmadi Sofyan atau yang dikenal sebagai Atok Kulup, yang menggagas pelaksanaan Sastra Bhayangkara.

Menurutnya, sejak awal dirinya langsung mendukung kegiatan tersebut karena meyakini bahwa karya sastra, khususnya puisi, merupakan media yang jujur dalam menyampaikan suara hati masyarakat.

“Ketika kegiatan ini diusulkan kepada saya, saya langsung mengatakan laksanakan. Libatkan semua kalangan, karena saya percaya di dalam puisi banyak kata-kata yang jujur dan banyak kritik yang perlu kita dengarkan,” katanya.

Selain pembacaan puisi, malam itu juga ditampilkan monolog yang dibawakan seniman Budi Sengkro. Kapolda mengaku menyimak dengan serius setiap pesan yang disampaikan dalam pertunjukan tersebut.

Ia menilai kritik terhadap institusi Polri merupakan bagian dari harapan masyarakat agar kepolisian terus berbenah dalam menjalankan tugas memberikan perlindungan, pelayanan, dan pengayoman.

“Banyak pesan yang disampaikan. Ada kritik, ada harapan, bahkan diingatkan bahwa polisi bukan malaikat. Tetapi masyarakat berharap Polri selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

Kapolda mengungkapkan dirinya telah membaca sejumlah puisi yang ditulis berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari seorang ibu rumah tangga, anak-anak hingga masyarakat umum, seluruhnya dinilai menyampaikan pesan yang tulus.

Menurutnya, ketika puisi tersebut dibacakan, makna yang terkandung di dalamnya terasa jauh lebih dalam dibanding sekadar tulisan di atas kertas.

“Ternyata banyak hal yang selama ini mungkin kita lupakan. Di luar sana banyak masyarakat yang berharap Polri menjadi lebih baik dari hari ini,” ucapnya.

Karena itu, Kapolda mengajak seluruh personel Polda Babel menjadikan karya sastra tersebut sebagai bahan introspeksi dalam menjalankan tugas.

Ia meminta setiap anggota membaca kembali kumpulan puisi yang telah dibagikan kepada peserta acara dan memahami setiap pesan yang terkandung di dalamnya.

“Baca baik-baik puisi itu, dengarkan kata-kata yang jujur dari masyarakat, kemudian renungkan apa yang harus kita lakukan agar pelayanan kepada masyarakat menjadi semakin baik,” pesannya.

Melalui kegiatan Sastra Bhayangkara yang dipadukan dengan nonton bareng Final Piala Dunia 2026, Polda Kepulauan Bangka Belitung berharap tercipta ruang dialog yang lebih humanis antara Polri dan masyarakat, sehingga kritik, masukan, serta harapan publik dapat menjadi bekal untuk memperkuat profesionalisme dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *