Gaya Berpakaian “Turis Bali” Feladia Picu Keresahan: Ketika Mode Berbenturan dengan Nilai Moral Desa

Suaranusantara.online

SAPEKEN – Sebuah insiden yang awalnya berupa dugaan pemukulan kini berubah menjadi perdebatan panas tentang batasan moral dalam berpakaian.

Anggap saja Feladia, seorang warga Desa Sapeken yang melaporkan dugaan kekerasan dari Kepala Desa Joni Junaidi, justru menjadi sorotan karena gaya berpakaiannya yang dinilai tidak pantas dan berpotensi memberikan pengaruh buruk bagi generasi muda.

Peristiwa pada Rabu, 13 Agustus 2025 pukul 16.55 WIB ini bermula ketika Feladia melaporkan dugaan pemukulan saat ia sedang makan cilok di Jalan Baru Sapeken.

Namun, Kepala Desa Sapeken, Joni Junaidi meluruskan, bahwa ia tidak memukul, melainkan hanya memberikan “pelajaran” terkait cara berpakaian yang dianggapnya tidak sesuai dengan norma desa.

“Tangan saya refleks dan mengenai cilok yang dipegang Feladia, sehingga bertaburan,” jelasnya saat dikonfirmasi media

Kepala Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken , Kabupaten Sumenep , Jawa Timur, menyangkan sikap warganya yang sudah seringkali di peringati bahkan Feladia sendiri membuat surat pernyataan tertulis di kantor Desa Sapeken.

Yang menjadi perhatian utama adalah penampilan Feladia yang kerap mengenakan busana bergaya “Turis Bali” dengan rok mini, baju terbuka, dan tato permanen yang terlihat jelas.

Gaya berpakaian ini dinilai tidak sesuai dengan karakter Desa Sapeken yang dikenal religius dengan slogan “Pulau Ibadah – Sapeken Bersholawat.”

Kepala Desa Sapeken, Joni, menegaskan, “Saya tidak melarang Feladia tidak memakai jilbab, dengan catatan memakai pakaian yang menutup aurat.”

Ia menambahkan, bahwa sebagai pemimpin desa, ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah desa dan memberikan pembinaan kepada warganya sesuai dengan Perdes No. 1 Tahun 2015, tentang ketertiban dan keamanan desa

Para warga dan tokoh masyarakat menyatakan keprihatinan mendalam terhadap dampak gaya berpakaian Feladia bagi remaja dan anak-anak di desa.

Mereka khawatir, bahwa penampilan yang dianggap tidak sopan ini akan ditiru oleh generasi muda, sehingga mengikis nilai-nilai moral dan budaya yang telah mengakar di masyarakat Pulau Sapeken.

“Yang kami khawatirkan adalah anak-anak muda di desa ini akan meniru gaya berpakaiannya. Ini bukan soal kebebasan, tapi soal menjaga moral dan kehormatan desa,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kasus ini mencerminkan benturan antara gaya hidup modern yang bebas dengan nilai-nilai tradisional yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat desa.

Feladia dituduh tidak hanya melanggar norma berpakaian, tetapi juga membawa budaya luar yang dianggap tidak sejalan dengan tradisi dan nilai-nilai agama yang dianut mayoritas warga Sapeken.

Warga menyayangkan sikap Feladia yang dinilai tidak menghormati lingkungan tempat tinggalnya.

“Kami tidak menuntut dia berpakaian seperti ustadzah. Yang kami minta sederhana saja: sopan,” tegas Kepala Desa Joni, mewakili suara warga.

Para orang tua di Desa Sapeken mengkhawatirkan dampak psikologis yang mungkin timbul pada anak-anak mereka.

Mereka menilai, bahwa paparan terhadap gaya berpakaian yang terlalu terbuka dapat mempengaruhi perkembangan moral dan pandangan anak-anak tentang kesopanan.

“Anak-anak itu mudah meniru apa yang mereka lihat. Kalau mereka melihat orang dewasa berpakaian seperti itu dan dianggap normal, bagaimana mereka bisa membedakan mana yang pantas dan tidak pantas?” keluh seorang ibu rumah tangga.

Kasus ini juga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana tanggung jawab sosial setiap individu dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Para tokoh agama setempat menekankan bahwa kebebasan berpakaian harus diimbangi dengan kesadaran akan dampaknya terhadap lingkungan sosial, terutama bagi generasi yang lebih muda.

“Setiap orang memiliki hak untuk berpakaian sesuai keinginannya, tetapi kita juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja yang masih dalam tahap pembentukan karakter,” ujar seorang tokoh agama setempat.

Peristiwa di Sapeken ini menjadi cermin bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan individual dan tanggungjawab sosial.

Gaya berpakaian yang mungkin dianggap biasa di daerah wisata seperti Bali, belum tentu dapat diterima di lingkungan dengan nilai-nilai tradisional yang masih kuat.

Kasus Feladia mengingatkan kita semua, bahwa setiap pilihan, termasuk dalam berpakaian, memiliki konsekuensi sosial yang perlu dipertimbangkan matang-matang, terutama ketika menyangkut pengaruhnya terhadap generasi penerus bangsa.

(GUSNO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *