LAMPUNG TENGAH,
Suaranusantara.Online —
Sorotan tajam kembali mengarah ke proses Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam) Marga Jaya, Kecamatan Selagai Lingga, Kabupaten Lampung Tengah.
Kali ini bukan soal program unggulan, melainkan soal etika dan sikap salah satu calon Kakam yang dinilai patut dievaluasi bersama oleh seluruh elemen masyarakat, panitia, maupun pihak berwenang.
Kejadian yang menyita perhatian tersebut berlangsung ketika jurnalis berusaha melakukan silaturahmi sekaligus konfirmasi terkait perkembangan proses pencalonan di kediaman salah satu calon Kakam Marga Jaya,seorang wanita.
Alih-alih disambut dengan terbuka dan ramah sebagaimana sosok yang bercita-cita memimpin, justru sebaliknya, kehadiran para awak media tersebut ditolak mentah-mentah di lokasi kediaman.
Perlakuan yang kurang pantas ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat maupun para pengamat proses demokrasi di tingkat kampung. Pasalnya, seorang calon pemimpin yang diamanatkan untuk melayani seluruh lapisan masyarakat, justru menolak berkomunikasi dengan pihak yang berperan sebagai jembatan informasi antara penyelenggara, calon, dan warga.
“Jika sejak masa pencalonan saja sudah menolak kehadiran jurnalis dan menutup diri dari informasi, bagaimana nanti saat terpilih? Bagaimana ia akan transparan dan terbuka terhadap aspirasi warga jika kepada awak media saja bersikap tertutup?” ujar salah satu jurnalis yang hadir, menyampaikan kekecewaannya.
Etika dan sikap seorang calon pemimpin menjadi tolok ukur utama kesiapan seseorang memimpin sebuah wilayah.
Dalam proses demokrasi yang sehat, keterbukaan, keramahan, dan kesiapan menerima kritik maupun masukan dari berbagai pihak termasuk awak media adalah hal yang mutlak dimiliki oleh setiap calon.
Menolak kehadiran jurnalis justru dianggap tindakan yang tidak mendukung prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi.
Masyarakat Marga Jaya pun di himbau untuk tidak hanya terpaku pada janji-janji manis yang diucapkan saat kampanye, melainkan menilai juga karakter, sikap, dan etika setiap calon dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap yang ditunjukkan saat ini adalah cerminan nyata bagaimana sosok tersebut akan bekerja nanti.
Dengan demikian, etika dan sikap calon Kakam Marga Jaya yang menolak kehadiran jurnalis ini patut menjadi bahan evaluasi bersama. Panitia penyelenggara Pilkakam, tokoh masyarakat, serta seluruh warga diharapkan turut mengawasi dan menilai setiap langkah para calon, agar terpilih nanti adalah sosok yang tidak hanya mampu membangun fisik kampung, tetapi juga mampu menjaga etika, menjunjung tinggi keterbukaan, dan melayani seluruh warga dengan tulus hati.
Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga, sehingga proses Pilkakam Marga Jaya tetap berjalan bermartabat, jujur, dan menghasilkan pemimpin yang dicintai serta dipercaya oleh seluruh masyarakat.(MANSUR)







