Dua Dekade Berdikari: Jejak Panjang Universitas Bangka Belitung Membangun Generasi dan Harapan Negeri

BANGKA — Pagi itu, Senin (13/4/2026), Balai Utama De Universitaria di Kampus Terpadu UBB, Desa Balunijuk, dipenuhi suasana khidmat. Di ruang itu, perjalanan panjang sebuah kampus dirayakan—bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas dua dekade perjuangan membangun pendidikan di daerah.

Genap 20 tahun sejak berdiri pada 12 April 2006, Universitas Bangka Belitung menandai tonggaknya melalui Rapat Terbuka Senat dalam rangka Lustrum IV, pengukuhan guru besar, sekaligus peresmian Gedung Balai Utama De Universitaria. Tema “2 Dekade Berdikari Membangun Negeri” tak sekadar menjadi slogan, tetapi cerminan perjalanan dari keterbatasan menuju kematangan.

Rektor UBB, Ibrahim, menyebut perjalanan ini berjalan seiring dengan semangat otonomi daerah. UBB, kata dia, hadir sebagai bagian dari upaya besar bangsa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, sains, dan teknologi.

“Momentum ini menjadi refleksi untuk terus memajukan Universitas Bangka Belitung secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dua dekade lalu, UBB lahir dari ruang-ruang sederhana—dari mimpi para tokoh daerah yang ingin menghadirkan pendidikan tinggi di tanah sendiri. Kini, wajahnya berubah. Lebih dari 10 ribu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia menempuh pendidikan di kampus ini, dengan 31 program studi yang terus berkembang.

Sejak Desember 2025, UBB juga resmi berstatus Badan Layanan Umum (BLU), sebuah langkah penting menuju kemandirian institusi. Dengan dukungan lebih dari 700 tenaga akademik, kampus ini terus memperkuat diri—mulai dari pengembangan sumber daya manusia hingga perluasan riset dan jejaring akademik.

Di balik capaian itu, terdapat lebih dari 700 tenaga akademik yang menjadi tulang punggung kampus. Sejumlah dosen tengah menempuh pendidikan lanjutan, baik di dalam maupun luar negeri, sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas pendidikan.

UBB juga mulai menatap masa depan dengan optimisme. Target 13 ribu mahasiswa pada 2027 dan 14 ribu pada 2028 menjadi penanda bahwa pertumbuhan kampus ini belum mencapai puncaknya.

Di tengah perayaan itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, melihat momentum ini sebagai ruang lahirnya kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah.

Menurutnya, pengukuhan guru besar bukan hanya capaian personal, tetapi juga peluang memperkuat kontribusi ilmu pengetahuan bagi pembangunan daerah.

“Kami mengucapkan selamat dan turut bangga atas pengukuhan Guru Besar ini. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi dunia akademik, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah,” ujarnya saat diwawancarai wartawan.

Dessy juga menyoroti perubahan besar dalam peran perempuan. Ia menilai, dunia pendidikan kini semakin inklusif dan memberi ruang luas bagi perempuan untuk berkembang.

“Kalau dulu perempuan seringkali terbatas pada peran domestik, sekarang sudah jauh berkembang. Perempuan sudah hadir dan berkontribusi di berbagai sektor,” katanya.

Sorotan itu terasa semakin kuat ketika tiga guru besar yang dikukuhkan seluruhnya merupakan perempuan—sebuah simbol kemajuan dalam dunia akademik yang semakin terbuka.

Di sisi lain, Ketua DPRD Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, yang ditemui wartawan usai acara, mengingatkan bahwa capaian UBB hari ini tidak lepas dari sejarah panjang perjuangan para pendirinya.

“Kita sangat bangga mendengar sejarah berdirinya UBB. Perjalanannya tidak mudah dan penuh tantangan. Kita doakan ini menjadi amal jariah bagi para pendirinya,” ujarnya.

Menurut Didit, pengukuhan guru besar menjadi indikator bahwa kualitas UBB terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional.

“Ini menunjukkan bahwa kualitas UBB tidak kalah dengan kampus-kampus lain di Indonesia,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya sumber daya manusia unggul.

“Kampus adalah tempat mencetak generasi masa depan. Aset pendidikan seperti ini harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Didit mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan DPRD untuk memperkuat dukungan terhadap sektor pendidikan, termasuk melalui kebijakan anggaran.

“Pemerintah daerah harus hadir di sektor pendidikan,” ujarnya.

Bahkan, ia menegaskan bahwa UBB kini telah melampaui batas sebagai institusi lokal.

“UBB ini bukan hanya milik Bangka Belitung, tapi sudah menjadi aset nasional. Maka pemerintah daerah harus benar-benar hadir,” tutupnya.

Dari ruang sederhana hingga gedung megah, dari mimpi lokal hingga visi nasional—perjalanan Universitas Bangka Belitung adalah cerita tentang ketekunan, kolaborasi, dan harapan.

Dua dekade mungkin baru permulaan. Namun dari perjalanan itu, satu hal menjadi pasti: ketika pendidikan dibangun dengan semangat berdikari dan didukung bersama, ia akan terus melampaui batas—membentuk generasi, dan pada akhirnya, membangun negeri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *