PANGKALPINANG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Wali Kota Pangkalpinang, Prof. H. Saparudin atau Prof Udin, serta Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayu Trisna, di Ruang Rapat Wali Kota, Kamis (30/7/2026).
Pertemuan tersebut membahas rencana pengembangan hasil riset BRIN di bidang metalurgi, khususnya pengolahan mineral ilmenit menjadi titanium sebagai bagian dari program hilirisasi mineral di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Usai pertemuan, Prof Udin mengungkapkan bahwa BRIN telah berhasil mengembangkan teknologi pengolahan ilmenit menjadi titanium dalam skala laboratorium dan kini tengah menyiapkan tahapan peningkatan kapasitas menuju skala industri.
“BRIN sudah memiliki hasil penelitian yang mampu mengubah ilmenit menjadi titanium. Saat ini mereka berencana melakukan scale up dari hasil riset laboratorium menuju pembangunan pabrik,” kata Prof Udin.
Sebagai bentuk dukungan terhadap rencana tersebut, Pemerintah Kota Pangkalpinang menawarkan kawasan peruntukan industri di Ketapang sebagai lokasi yang dinilai strategis apabila pembangunan fasilitas pengolahan titanium direalisasikan.
“Kami menawarkan kawasan industri di Ketapang apabila nantinya mereka berencana membangun pabrik di Pangkalpinang,” ujarnya.
Menurut Prof Udin, audiensi tersebut merupakan langkah awal penjajakan kerja sama antara BRIN dan Pemerintah Kota Pangkalpinang. Pada tahap ini belum ada keputusan maupun jadwal pasti terkait pembangunan pabrik, namun pemerintah daerah menyambut positif inisiatif tersebut.
“Ini masih pertemuan awal. Mereka datang untuk bersilaturahmi, memperkenalkan rencana dan mengetuk pintu. Tentu kami menyambutnya dengan sangat baik,” katanya.
Ia menilai rencana hilirisasi ilmenit menjadi titanium sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya mineral melalui pengolahan di dalam negeri.
“Sesuai program pemerintah, berbagai mineral yang kita miliki seperti timah, zirkon, ilmenit, silika hingga mineral tanah jarang memang harus dihilirisasi agar memiliki nilai tambah yang lebih besar,” jelasnya.
Prof Udin berharap apabila proyek tersebut dapat direalisasikan, fasilitas pengolahan dibangun di Bangka Belitung, khususnya di Kota Pangkalpinang, sehingga manfaat ekonomi dan peluang kerja dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Harapan kami pabriknya berada di Bangka Belitung, khususnya di Kota Pangkalpinang. Dengan begitu, tenaga kerja yang dibutuhkan juga dapat berasal dari masyarakat lokal,” pungkasnya.








