Suaranusantara.online
SUMENEP – Gelaran Musik Tongtong yang masuk dalam kalender event Bupati Sumenep justru menuai kritik tajam dari masyarakat. Bukan soal kemeriahannya, melainkan minimnya pengaturan lalu lintas yang merugikan pengguna jalan.
Berdasarkan pantauan media ini di lapangan, Sabtu (18/10/2025), sejumlah ruas jalan utama di sekitar lokasi acara ditutup total tanpa rambu peringatan maupun petugas pengatur lalu lintas. Kondisi ini memaksa pengendara memutar jauh untuk mencapai tujuan mereka.
Seorang warga Kepulauan yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan kekecewaannya.
“Seharusnya ada pemberitahuan jelas kalau ada penutupan jalan, supaya masyarakat tahu dan ada petugas yang mengatur,” keluhnya.
Warga tersebut juga menyoroti minimnya pertimbangan panitia terhadap dampak kegiatan bagi masyarakat umum, khususnya pengguna jalan yang melintas di wilayah kota Sumenep.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari panitia pelaksana maupun instansi terkait, termasuk Dinas Perhubungan dan Satlantas Polres Sumenep, mengenai standar operasional prosedur (SOP) pengaturan lalu lintas selama Musik Tongtong berlangsung.
Kekosongan informasi ini semakin memperkuat kesan lemahnya koordinasi antarinstansi dalam penyelenggaraan event berskala besar yang melibatkan anggaran publik.
Masyarakat mendesak Bupati Sumenep, Ach. Fauzi, beserta jajaran dinas terkait untuk tidak menjalankan kebijakan secara sepihak. Dalam bahasa Jawa, warga menyindir: “Se enak wujelle dewe” (sesuka hatinya sendiri).
“Ini uang rakyat yang dipakai. Harusnya pemerintah daerah lebih peka terhadap dampak yang ditimbulkan, bukan cuma mikirin acara besar-besaran tanpa memperhitungkan kenyamanan publik,” tegas salah satu warga.
Keluhan serupa mengemuka di media sosial, di mana warga mempertanyakan urgensi event yang justru mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
Warga menuntut Pemkab Sumenep melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola penyelenggaraan event budaya, khususnya yang berdampak langsung pada fasilitas publik seperti jalan raya.
Beberapa poin yang disorot antara lain:
– Pemberitahuan publik lebih awal mengenai penutupan jalan melalui media massa dan media sosial resmi
– Penempatan rambu-rambu sementara dan papan informasi rute alternatif
– Penugasan petugas lalu lintas di setiap titik penutupan dan persimpangan strategis
– Koordinasi ketat antara panitia, Dishub, Satlantas, dan instansi terkait lainnya.
Musik Tongtong merupakan tradisi khas Madura yang digelar rutin setiap tahun sebagai upaya melestarikan kesenian lokal dan mendukung sektor pariwisata Sumenep. Event ini melibatkan parade bunyi-bunyian bambu yang dimainkan secara massal dengan iringan tarian tradisional.
Namun, sejumlah warga menilai pelaksanaannya belum diimbangi dengan manajemen teknis yang memadai. “Kami dukung pelestarian budaya, tapi jangan sampai mengorbankan kepentingan masyarakat luas,” ujar warga lainnya.
Publik berharap, ke depan, Pemkab Sumenep mampu menyeimbangkan antara tujuan pelestarian budaya dengan kenyamanan serta keselamatan publik dalam setiap penyelenggaraan event berskala besar.
(GUSNO)








