PANGKALPINANG, Sabtu (13/9/2025) — Direktur Utama PT Timah Tbk menyoroti besarnya potensi mineral ikutan berupa zirkon yang dihasilkan dari kegiatan penambangan timah. Menurutnya, nilai tambah dari zirkon di pasar global sangat tinggi, namun belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan di dalam negeri.
Ia mencontohkan, zirkon menjadi bahan baku penting dalam industri, termasuk untuk produk kesehatan. “Zirkon itu salah satunya dipakai untuk tambal gigi. Dua tetes saja bisa dikenakan biaya Rp2,5 juta. Padahal, harga Zirkon siap ekspor di pasar hanya sekitar Rp110 ribu sampai Rp120 ribu per kilogram,” jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Bangka Belitung, Sabtu (13/9).
Dirut PT Timah mengungkapkan, sebagian besar Zirkon yang dihasilkan masih diekspor mentah, sehingga nilai tambahnya lebih banyak dinikmati di luar negeri. “Padahal, jika diproses lebih lanjut di dalam negeri, manfaat ekonominya akan berlipat ganda,” katanya.
Menurutnya, Kementerian ESDM sudah merespons isu ini dengan mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan zirkon. “Pak Menteri menyampaikan, minggu depan akan meninjau kesiapan pemrosesan di Tanjung Ular. Pemerintah juga akan mendorong investasi untuk membangun smelter-smelter baru agar mineral ikutan ini bisa diolah di dalam negeri,” ujarnya.
Ia menilai, langkah pemerintah untuk membangun hilirisasi mineral ikutan harus segera direalisasikan agar tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. “Kalau ini berhasil, bukan hanya menambah kontribusi keuangan negara, tapi juga membuka peluang industri baru di Bangka Belitung,” pungkasnya.








