UBB 20 Tahun: Tumbuh dari 13 Prodi ke 36, Kini Bidik Peran Lebih Besar

BANGKA — Dua dekade bukan sekadar hitungan waktu bagi Universitas Bangka Belitung. Di usia ke-20, kampus negeri di Negeri Serumpun Sebalai ini menegaskan diri sebagai salah satu motor penggerak pembangunan sumber daya manusia di wilayah kepulauan.

Momentum itu terasa kental dalam peringatan Dies Natalis ke-20 yang digelar di Balai Utama De-Universitaria, Senin (12/4/2026). Dalam suasana penuh refleksi dan optimisme, perjalanan panjang UBB sejak berdiri pada 12 April 2006 kembali ditarik ke belakang—sekaligus diarahkan ke masa depan.

Rektor UBB dalam sambutannya menyebut, kampus ini lahir dari mimpi besar anak negeri. Mimpi untuk berdikari dan memiliki perguruan tinggi negeri sendiri di tengah keterbatasan sebagai daerah kepulauan.

“Mimpi berdikari anak negeri… mimpi yang bukan tanpa tantangan, bahkan sempat dianggap mustahil,” ujarnya.

Namun sejarah kemudian mencatat, mimpi itu tumbuh. Sejak ditetapkan sebagai perguruan tinggi negeri pada 19 November 2010, UBB terus berkembang. Dari hanya 13 program studi di awal berdiri, kini telah menjadi 36 program studi yang tersebar di enam fakultas.

Jumlah mahasiswa pun melonjak signifikan. Jika pada awal berdiri hanya sekitar 1.000 mahasiswa, pada 2025 jumlahnya mencapai 10.000 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dari Sabang sampai Merauke, dari Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur,” kata rektor, menggambarkan jangkauan kampus yang semakin luas.

Perjalanan UBB tidak hanya soal pertumbuhan kuantitas, tetapi juga kualitas. Pada 2019, kampus ini berhasil meraih akreditasi institusi B sebagai tonggak transformasi mutu akademik.

Langkah maju berlanjut dengan dibukanya program magister pada 2021, disusul izin penyelenggaraan Program Studi Kedokteran dan Profesi Dokter pada 2023.

Pada tahun yang sama, UBB juga bertransformasi secara kelembagaan dari satuan kerja (Satker) menjadi Badan Layanan Umum (BLU), yang memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan dan pengembangan institusi.

“Ini bukan sekadar perubahan status, tetapi lompatan untuk mempercepat kemandirian,” ujarnya.

Sebagai kampus di wilayah kepulauan, UBB memiliki tantangan tersendiri. Namun justru dari keterbatasan itu muncul kekuatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kampus ini mencatat peningkatan minat pendaftar hingga 11.000 orang pada 2025, dengan daya tampung sekitar 3.000 mahasiswa baru per tahun.

“Bagi daerah kepulauan, angka ini impresif dan membanggakan,” kata rektor.

Tak hanya itu, capaian akademik juga terus meningkat. UBB kini masuk klaster utama penelitian dan pengabdian, meraih predikat informatif dalam keterbukaan informasi publik, serta mencatat berbagai prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional.

Dalam pidatonya, pimpinan kampus juga menegaskan komitmen UBB ke depan melalui enam deklarasi strategis. Di antaranya memperluas akses pendidikan, mempercepat pengembangan sumber daya manusia, hingga mendorong riset berdampak yang sejalan dengan program nasional.

UBB juga menargetkan peningkatan jumlah mahasiswa aktif menjadi 12.000 pada 2026, dan terus bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

Selain itu, pengembangan infrastruktur kampus terus dilakukan, termasuk rencana pembangunan gedung baru dan penguatan fasilitas akademik.

Perayaan Dies Natalis ke-20 ini juga diwarnai pengukuhan tiga guru besar baru, yang disebut sebagai simbol lahirnya generasi ilmuwan baru dari rahim UBB.

Di hadapan para tamu undangan, termasuk Sri Suning Kusumawardani dan sejumlah pimpinan perguruan tinggi nasional, UBB menegaskan tekadnya untuk terus tumbuh dan berkontribusi.

“Dua dekade ini bukan akhir, tapi awal untuk menuju tiga, empat, bahkan lima dekade ke depan,” ujar rektor.

Di tengah tantangan global dan keterbatasan daerah kepulauan, UBB menempatkan diri bukan lagi sekadar sebagai kampus lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam mencetak generasi unggul Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *