PANGKALPINANG, — Di sebuah ruangan yang dipenuhi warna merah khas PDI Perjuangan, ratusan kader, mahasiswa, dan pengurus organisasi sayap partai berdiri bersama. Sebagian mengangkat kepalan tangan ke udara, sebagian lainnya menyimak dengan serius setiap pesan yang disampaikan dari atas panggung.
Di belakang mereka, terpampang layar besar bertuliskan “Pelantikan Sayap dan Badan PDI Perjuangan Bangka Belitung Masa Bakti 2026–2031.”
Suasana itu bukan sekadar seremoni organisasi.
Bagi kader PDI Perjuangan, bulan Juni memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Bulan ini dikenal sebagai Bulan Bung Karno, momentum untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali semangat perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Di Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jalan R.A. Hundani, Kelurahan Lontong Pancur, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, semangat itu kembali digaungkan melalui seminar nasional mahasiswa dan pelantikan badan serta sayap partai.
Bagi Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kepulauan Bangka Belitung, Rudianto Tjen, peringatan Bulan Bung Karno tidak boleh berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah semata.
Menurutnya, Bulan Bung Karno harus menjadi ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.
“Setiap tahun kita mengadakan rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Kita mengingat kembali perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan kemerdekaan kita,” ujar Rudianto.
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan pesan besar tentang perjalanan bangsa yang belum sepenuhnya selesai.
Delapan dekade setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Indonesia memang telah berkembang pesat. Infrastruktur menjangkau berbagai daerah, teknologi terus berkembang, dan akses pendidikan semakin terbuka.
Namun di balik berbagai capaian itu, masih terdapat pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Kemiskinan, ketimpangan sosial, kualitas pendidikan, hingga kesenjangan pembangunan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Di titik itulah, menurut Rudianto, semangat Bung Karno tetap relevan.
Kemerdekaan tidak berhenti pada keberhasilan mengusir penjajah. Kemerdekaan harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan yang dirasakan seluruh rakyat Indonesia.
Karena itu, Bulan Bung Karno menjadi pengingat bahwa perjuangan sesungguhnya adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Supaya seluruh masyarakat, mahasiswa, dan kader partai memahami semangat perjuangan memerdekakan Republik Indonesia, berjuang untuk kesejahteraan rakyat, menghilangkan kemiskinan, menghilangkan kebodohan, serta membangun semangat gotong royong,” katanya.
Pesan tersebut terasa semakin penting di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis.
Nilai gotong royong yang dahulu menjadi kekuatan utama bangsa saat memperjuangkan kemerdekaan perlahan menghadapi tantangan zaman. Kepentingan kelompok dan individu sering kali mengalahkan semangat kebersamaan.
Padahal Bung Karno berkali-kali menegaskan bahwa Indonesia dibangun oleh kerja kolektif seluruh anak bangsa, bukan oleh satu orang atau satu golongan.
Karena itu, Rudianto menilai kader partai harus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai tersebut.
Politik, menurutnya, tidak boleh hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan. Politik harus menjadi alat perjuangan untuk memperbaiki kehidupan rakyat.
Kader partai dituntut hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan warga, memahami persoalan yang dihadapi, dan ikut memperjuangkan solusi yang nyata.
Di hadapan mahasiswa yang memenuhi ruangan seminar, Rudianto juga menitipkan harapan besar kepada generasi muda.
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa selalu memiliki peran penting dalam setiap fase perubahan bangsa. Dari era pergerakan nasional, masa perjuangan kemerdekaan, hingga reformasi, suara mahasiswa kerap menjadi penggerak perubahan.
Karena itu, mahasiswa tidak boleh kehilangan idealisme.
Keberanian berpikir kritis, kepedulian terhadap persoalan sosial, dan semangat memperjuangkan kepentingan rakyat harus terus dijaga.
Mahasiswa, menurut Rudianto, bukan hanya calon pemimpin masa depan, tetapi juga penjaga nurani bangsa.
Pada akhirnya, Bulan Bung Karno bukan sekadar mengenang sosok besar bernama Soekarno.
Ia adalah momentum untuk menghidupkan kembali cita-cita yang pernah diperjuangkan: Indonesia yang merdeka secara politik, berdaulat secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, pesan itu tetap relevan.
Sebab perjuangan belum selesai.
Dan seperti yang pernah diingatkan Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.
Dari Pangkalpinang, semangat itu kembali dinyalakan. Bukan untuk bernostalgia dengan masa lalu, melainkan untuk menjadi bekal menghadapi masa depan Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. (nizar)








