Malam Ramah Tamah, Dari Riwayat Panjang ke Harapan Baru Pangkalpinang

PANGKALPINANG — Malam itu, Rumah Residen tidak hanya menjadi latar seremoni. Ia menjadi titik temu antara perjalanan panjang seorang penegak hukum dan harapan baru sebuah kota.

Kepala Kejaksaan Negeri Pangkalpinang yang baru, Rindang Onasis, S.H., M.H., membuka sambutannya dengan kisah perjalanan karier yang tidak singkat. Lebih dari satu dekade ia mengabdi di berbagai daerah, sebelum akhirnya kembali ke Bangka Belitung—wilayah yang pernah menjadi bagian dari rekam jejaknya.

Sekitar 2010, ia pernah bertugas di Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung sebagai Asisten Penerangan Hukum. Di sana, ia menghabiskan waktu cukup lama, termasuk masa sebagai koordinator. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bagian penting dalam memahami dinamika daerah.

Dan pada 27 April 2026, ia kembali. Kali ini sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Pangkalpinang.

“Bagi kami, ini bukan tempat yang asing. Ini adalah bagian dari perjalanan yang kembali kami lanjutkan,” ujarnya.

Namun, ia menyadari, jabatan baru bukan sekadar soal posisi. Ia adalah awal dari relasi baru—antara kejaksaan dan seluruh pemangku kepentingan di daerah.

Rindang menegaskan, tugas penegakan hukum tidak bisa dijalankan sendiri. Ia membutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga legislatif.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi dari semua pihak agar tugas dapat berjalan optimal,” katanya.

Ia juga menyampaikan optimismenya. Dengan dukungan Forkopimda dan Pemerintah Kota Pangkalpinang, ia meyakini stabilitas daerah dapat terus terjaga.

Bagi Rindang, hubungan dengan pemerintah daerah bukan sekadar koordinasi formal. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang diskusi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di daerah.

“Kami berharap komunikasi yang baik terus terjalin bersama Wali Kota, Dandim, Kapolres, serta mendapat dukungan dari legislatif,” ujarnya.

Di akhir sambutan, ia memperkenalkan keluarganya—sebuah sentuhan personal yang menambah kehangatan suasana malam itu. Ia pun memohon doa agar keluarganya dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik di lingkungan baru.

Setelah sambutan Kajari, Wali Kota Pangkalpinang mengambil alih suasana. Dengan gaya santai dan penuh canda, ia menyambut langsung kehadiran Rindang Onasis.

“Selamat datang di Pangkalpinang. Kalau sudah bisa bilang ‘auk’, itu artinya sudah jadi orang sini,” ucapnya, disambut tawa hadirin.

Sambutan itu tidak berhenti pada sapaan. Wali Kota memperkenalkan satu per satu unsur yang hadir—mulai dari DPRD, Forkopimda, hingga jajaran OPD.

Ia menyebut pimpinan DPRD dari berbagai fraksi, menyapa aparat keamanan, hingga menyinggung latar belakang para pejabat yang hadir dengan gaya santai dan penuh cerita.

“Ini semua anggota DPRD, tidak bisa saya sebut satu per satu,” ujarnya sambil mengarah ke barisan undangan.

Sapaan juga mengalir ke jajaran OPD, camat, lurah, hingga insan pers yang hadir malam itu. Suasana menjadi cair. Formalitas seolah mencair dalam canda dan kedekatan.

Dalam sambutannya, Wali Kota juga menggambarkan Pangkalpinang sebagai kota jasa dan perdagangan. Kota kecil dengan lebih dari 244 ribu penduduk, tujuh kecamatan, dan 42 kelurahan, yang hidup dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia bahkan menggambarkan kehidupan malam kota yang tetap berdenyut.

“Kalau malam Minggu, musik terdengar dari mana-mana. Sampai rumah pun bisa bergetar,” ujarnya.

Namun di balik itu, ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan tetap terjaga, berkat kerja sama aparat.

Di sisi lain, ia tidak menutup mata terhadap tantangan. Angka pengangguran yang masih berada di atas rata-rata nasional menjadi perhatian serius.

“Pengangguran kita sekitar 5,72 persen, di atas nasional. Ini pekerjaan rumah bagi kami,” katanya.

Meski demikian, ia menyebut sejumlah indikator lain menunjukkan capaian positif, termasuk indeks pembangunan manusia dan kinerja pemerintah daerah yang berada pada kategori tinggi.

Di titik itulah, ia berharap kehadiran Kajari baru dapat menjadi mitra strategis dalam mengawal pembangunan agar tetap berjalan sesuai aturan.

“Kami butuh arahan, butuh pendampingan, agar setiap program berjalan sesuai koridor hukum,” ujarnya.

Malam itu pun menjadi lebih dari sekadar penyambutan.

Di Rumah Residen yang sarat sejarah, sebuah relasi baru mulai dibangun—antara penegak hukum dan pemerintah daerah, antara aturan dan pembangunan, antara formalitas dan kedekatan.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya acara ramah tamah.

Namun bagi Pangkalpinang, ini adalah awal: awal kerja bersama, awal kepercayaan, dan awal dari upaya menjaga keseimbangan di tengah dinamika kota yang terus bergerak

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *