BANGKA TENGAH — Di balik birunya laut Pulau Kelasa yang memukau, tragedi ekologis tengah berlangsung secara senyap. Hamparan terumbu karang yang dulu menjadi benteng kehidupan bagi ribuan spesies ikan kini berubah menjadi puing-puing putih tak bernyawa. Penyebabnya: praktik penangkapan ikan ilegal menggunakan bom dan potasium sianida (potas).
Temuan memilukan ini diungkapkan Yayasan Peduli Terumbu Karang Bangka Belitung (LEPU), organisasi yang selama ini aktif memantau kesehatan ekosistem laut di kawasan Kelasa.
Menurut LEPU, pelaku destructive fishing diduga berasal dari Kurau dan Selat Nasik. Demi omzet sesaat, mereka merusak ekosistem yang membutuhkan ratusan tahun untuk pulih.
Modus Baru: Mengelabui dengan Kompresor, Mematikan dengan Racun dan Ledakan
Seorang anggota LEPU yang melakukan pemantauan lapangan menceritakan cara pelaku bekerja.
“Awalnya mereka bilang cuma menembak ikan pakai kompresor. Tapi setelah kami dekati, ternyata mereka pakai racun dan bom,” ujarnya.
Modusnya sistematis. Pelaku menyelam dengan kompresor, memberi umpan agar ikan berkumpul, lalu menyemprotkan potasium sianida yang sudah diracik. Ikan-ikan itu pingsan atau mati dalam hitungan detik, membuatnya mudah disabet tombak atau jaring.
Yang lebih merusak adalah penggunaan bom rakitan. Gelombangnya meretakkan tubuh karang hingga berkeping-keping.
“Dampaknya parah sekali. Karang yang butuh ratusan tahun tumbuh bisa hancur dalam satu ledakan,” katanya.
Ketua LEPU, Erwin, mengungkapkan sebagian besar spot karang Kelasa kini kritis.
“Kalau menyelam sekarang, seperti lihat padang tandus. Sunyi, mati,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku biasanya menggunakan kapal besar berkapasitas hingga 20 ton dan mampu membawa pulang tangkapan berton-ton.
“Mereka licik. Begitu tahu ada pengawas, langsung kabur,” katanya.
Restorasi Karang: Upaya Kecil di Tengah Kerusakan Besar
Meski kondisi memprihatinkan, LEPU dan beberapa komunitas pencinta laut tetap berusaha memulihkan kawasan rusak. Dengan dana swadaya dan bantuan relawan, mereka melakukan transplantasi karang menggunakan media semen dan besi.
Namun upaya restorasi tidak mudah. Minim anggaran, alat terbatas, cuaca kerap tidak bersahabat, dan pelaku destructive fishing masih terus beroperasi.
“Kami butuh dukungan pemerintah dan penegak hukum. Kalau pelaku tidak ditindak, restorasi hanya jadi sia-sia,” tegas Erwin.
Keluhan Nelayan Lokal: Tangkapan Menipis, Masa Depan Gelap
Kerusakan karang berdampak langsung pada nelayan tradisional Kelasa. Populasi ikan yang merosot membuat mereka pulang dengan hasil tangkapan semakin sedikit.
“Dulu pulang pasti bawa banyak. Sekarang untuk makan pun susah,” keluh seorang nelayan yang puluhan tahun menggantungkan hidup di laut sekitar Kelasa.
Nelayan khawatir generasi setelah mereka tidak lagi bisa menggantungkan hidup pada laut.
“Kami ingin anak cucu masih bisa mencari nafkah dari laut. Jangan sampai laut kami mati,” ujarnya.
Desakan Aksi Nyata: Selamatkan Karang, Selamatkan Masa Depan
LEPU bersama nelayan mendesak pemerintah daerah, aparat kepolisian, TNI AL, dan DKP untuk melakukan operasi rutin, memperketat patroli, dan menghukum pelaku destructive fishing seberat-beratnya.
Mereka juga meminta program pendampingan nelayan ramah lingkungan, pelatihan alat tangkap berkelanjutan, serta dukungan formal terhadap kegiatan restorasi terumbu karang.
“Terumbu karang adalah aset masa depan. Kalau hilang, seluruh ekosistem ikut runtuh,” tegas Erwin.
Hingga berita ini diturunkan, media ini masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan tanggapan resmi.








