Dr. Hamdan Pimpin PORPI Pangkalpinang Hadapi Tantangan Nyata, Pesan Ketua PORPI Babel Hj. Susanti, S. E

PANGKALPINANG — Kepemimpinan baru di tubuh Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia Kota Pangkalpinang resmi dimulai. Di bawah komando Dr. Hamdan, S.Pd., M.M, organisasi ini dihadapkan pada tantangan nyata: bagaimana membawa olahraga pernapasan keluar dari ruang seremoni, dan benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Pelantikan pengurus yang digelar di Gedung Betason, lingkungan RSUD Depati Hamzah, Sabtu (11/4/2026), bukan sekadar peneguhan struktur organisasi. Ia menjadi titik awal ujian—apakah PORPI mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat di tengah gaya hidup yang semakin minim aktivitas fisik.

Dr. Hamdan, S.Pd., M.M, memahami betul beban tersebut.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa amanah yang diberikan bukan hanya soal jabatan, tetapi tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan nyata.

“Kami akan menjalankan program pelatihan rutin pernapasan dan memperluas kegiatan hingga menyentuh masyarakat secara langsung,” ujarnya.

Namun, jalan ke sana tidak mudah.

Pengalaman banyak organisasi menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada perencanaan, melainkan konsistensi di lapangan. Minimnya partisipasi, keterbatasan dukungan, hingga stigma bahwa olahraga pernapasan bukan kebutuhan utama, menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi.

Di tengah dinamika tersebut, Ketua Harian PORPI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Hj. Susanti, S.E, menyampaikan pesan yang tegas.

Baginya, pelantikan bukanlah puncak, melainkan awal dari pengabdian.

“Pelantikan ini bukan seremoni. Ini adalah titik awal untuk bekerja dan membuktikan bahwa organisasi hadir untuk masyarakat,” ujarnya.

Hj. Susanti, S.E menekankan bahwa kepengurusan harus mampu membangun soliditas internal sekaligus menghadirkan program yang relevan dan berdampak.

Menurutnya, PORPI tidak boleh berhenti sebagai wadah silaturahmi semata. Organisasi ini harus mampu menjadi motor penggerak gaya hidup sehat.

Olahraga pernapasan memiliki potensi besar. Ia sederhana, murah, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Namun justru karena kesederhanaannya, ia sering dipandang sebelah mata.

Di sinilah tantangan terbesar itu berada.

Dr. Hamdan, S.Pd., M.M dan jajarannya dituntut untuk mengubah cara pandang tersebut—bahwa kesehatan tidak selalu harus mahal dan rumit. Bahwa napas, sesuatu yang paling mendasar, bisa menjadi kunci hidup sehat.

Sinergi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, hingga komunitas menjadi langkah yang harus ditempuh. Tanpa kolaborasi, program yang dirancang berisiko berhenti sebagai wacana.

Pelantikan itu mungkin telah usai. Namun pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai.

Di tangan kepengurusan baru, PORPI Pangkalpinang dituntut untuk tidak hanya aktif, tetapi juga relevan.

Relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Relevan dengan tantangan zaman.
Dan relevan dalam menjawab persoalan kesehatan yang semakin kompleks.

Karena pada akhirnya, organisasi bukan diukur dari seberapa sering dilantik—tetapi seberapa besar dampaknya dirasakan.

Dan bagi PORPI, jawabannya mungkin sesederhana ini:
mengajak masyarakat kembali peduli pada napasnya sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *