Antrean BBM Mengular Berjam-jam, Warga Tagih Tanggung Jawab Pertamina

PANGKALPINANG — Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM di sejumlah SPBU di Pangkalpinang belum juga sepenuhnya terurai. Warga harus menghabiskan waktu berjam-jam di tengah antrean, sementara dari sisi SPBU disebut stok dan kuota BBM masih aman.

Kondisi ini membuat warga mempertanyakan efektivitas pengawasan dan distribusi BBM oleh Pertamina.

Sebab, jika pasokan disebut aman dan pengiriman BBM terus dilakukan secara bertahap, pertanyaan berikutnya adalah mengapa masyarakat masih harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengisi BBM?

Irfan seorang warga yang ditemui saat mengantre di SPBU 24.331.102 Pasar Pagi Pangkalpinang mengatakan, kondisi tersebut sudah mengganggu aktivitas masyarakat.

“Harapannya normal. Kalau memang harus ngantre paling 10 menit seperti dulu, jangan seperti hampir sebulan ini, berjam-jam. Ini sangat mengganggu dan menghambat waktu aktivitas kita,” ujarnya, meminta namanya tidak disebutkan.

Ia meminta pemerintah dan Pertamina tidak sekadar menjelaskan soal ketersediaan stok, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan pengisian BBM dengan waktu antrean yang wajar.

“Pemerintah jangan diam saja, harus segera cari solusi. Khususnya Pertamina jangan pura-pura buta,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan di lapangan tidak cukup dijawab dengan pernyataan bahwa pasokan tersedia. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa BBM bisa diperoleh tanpa harus kehilangan waktu berjam-jam di SPBU.

“Eceran saat ini masih ditemukan sekitar Rp13.000 per liter, bahkan ada Rp14.000 per liter. Dengan selisih itu banyak yang rela antre karena memikirkan juga kebutuhan yang lain,” ungkapnya.

Stok Disebut Aman, Tapi Antrean Tetap Panjang

Pihak SPBU melalui bagian administrasi, Sudianto, menyatakan stok BBM sebenarnya cukup dan pasokan dari Pertamina terus masuk secara bertahap.

“Pengiriman bervariasi, mulai dari 16 ton, 24 ton hingga 32 ton, tergantung pasokan yang dikirim Pertamina. Setelah BBM masuk dan disalurkan, stok kemudian kembali diisi secara bertahap,” ujarnya.

Namun, keterangan mengenai stok yang aman tersebut berhadapan dengan kondisi yang dirasakan langsung masyarakat.

Jika pasokan aman, mengapa antrean masih mengular?

Pertanyaan itu menjadi penting karena warga bukan hanya mengeluhkan panjangnya barisan kendaraan, tetapi juga waktu yang harus mereka korbankan untuk mendapatkan BBM.

Sudianto juga membantah adanya praktik pengerit di SPBU tersebut. Menurutnya, antrean panjang lebih dipengaruhi kekhawatiran konsumen yang memilih datang dan mengantre karena takut tidak mendapatkan BBM.

Warga Tolak Disebut Sekadar Panik

Antrean panjang juga terlihat di SPBU Kp Opas Indah Pangkalpinang.

Rahmad, salah seorang warga yang mengantre, mengatakan masalah semakin terasa ketika barisan kendaraan memanjang hingga keluar pagar SPBU.

“Harapannya normal lah. Minimal kalau memang harus ngantre paling 15 menit. Ini kan sampai berjam-jam kayak gini mengganggu waktu aktivitas kita. Harapannya pemerintah dan Pertamina lebih memperhatikan ini,” katanya.

Rahmad juga menyoroti narasi bahwa antrean panjang semata-mata disebabkan kepanikan masyarakat.

“Jangan melempar kalimat seolah masyarakat yang antre itu panik sehingga menimbulkan antrean panjang. Harusnya pemerintah, Pertamina dan SPBU itu mencari solusi, bukan melempar kesalahan antrean ke masyarakat,” tegasnya.

Menurut dia, masyarakat yang datang ke SPBU pada dasarnya membutuhkan BBM dan berharap proses pengisian berlangsung normal.

Operator Ditambah, Kuota Disebut Aman

Pengawas SPBU Kp Opas, Jihan, mengatakan pihaknya telah menambah operator pada jalur kendaraan roda empat untuk mempercepat pengisian.

“Kalau dari SPBU kami paling operatornya itu ditambah kalau di bagian mobil. Biasanya kan satu orang, ini jadi dua orang. Jadi untuk pengisian lebih cepat,” kata Jihan.

Ia memastikan kuota BBM untuk SPBU tersebut masih aman.

“Kalau kuota aman selalu,” ujarnya.

Meski demikian, antrean tetap menjadi persoalan ketika kendaraan memanjang hingga keluar pagar SPBU.

Di titik inilah warga meminta Pertamina tidak berhenti pada jaminan stok dan angka pasokan. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kepastian BBM tersedia di atas kertas, melainkan BBM benar-benar mudah diperoleh dengan antrean yang wajar di lapangan.

Sebab, ketika warga masih harus mengantre berjam-jam, persoalannya bukan lagi semata soal ada atau tidaknya BBM. Pertamina perlu menjelaskan mengapa kondisi tersebut masih terjadi dan langkah konkret apa yang dilakukan agar antrean tidak terus berulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *