Jembatan Penghubung Antarkampung Menjadi Impian Warga, Bertahun Melintas Menggunakan Rakit Bambu

 

Pringsewu,Suaranusantara.Online-

Sebuah jembatan penghubung yang kokoh menjadi harapan terbesar bagi warga di dua kampung yang dipisahkan oleh aliran sungai besar ini. Sudah puluhan tahun berlalu, masyarakat di wilayah ini masih harus bergantung pada rakit bambu sederhana sebagai satu-satunya sarana penyeberangan, meskipun risiko bahaya senantiasa mengintai setiap kali mereka melintas.

Sungai yang memisahkan Pekon Banjarejo,Kecamatan Banyumas dan Pekon Bumiarum,kecamatan Pringsewu ini menjadi batas alami yang memisahkan akses warga ke fasilitas umum, mulai dari sekolah, puskesmas, hingga pasar dan kantor pelayanan publik. Karena belum ada jembatan permanen, warga terpaksa merakit potongan-potongan bambu menjadi rakit terapung yang digunakan untuk mengangkut orang maupun barang hasil bumi.

Proses penyeberangan ini memakan waktu cukup lama dan sangat bergantung pada kondisi arus sungai.

Saat musim hujan tiba dan debit air meningkat, arus sungai menjadi deras dan bergejolak. Di saat itulah, rakit bambu yang sempit dan sederhana itu menjadi sarana yang sangat berbahaya. Warga harus ekstra hati-hati, dan seringkali penyeberangan terpaksa dihentikan total karena dianggap terlalu membahayakan nyawa.

Anak-anak sekolah harus berjuang menyeberang demi menuntut ilmu, sementara petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar, yang akhirnya menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat.

“Sudah puluhan tahun kami seperti ini. Setiap hari harus bergantian mendayung rakit bambu. Kalau air naik, kami tidak bisa ke mana-mana.

Anak-anak tidak bisa sekolah, hasil tani membusuk di kebun.

Kami hanya bermimpi satu hal,ada jembatan yang aman agar kami bisa lewat dengan tenang kapan saja,” ungkap Bapak Andri, salah satu tokoh warga yang sudah puluhan tahun melintas menggunakan rakit bambu tersebut.

Ia menambahkan, biaya pembuatan rakit pun menjadi beban tersendiri bagi warga. Karena bambu mudah lapuk terkena air dan panas, rakit harus diganti atau diperbaiki setiap beberapa bulan sekali dengan biaya yang ditanggung bersama secara swadaya.

Meski demikian, semangat warga tak surut, namun harapan mereka akan kehadiran jembatan penghubung semakin besar dan mendesak.

Berbagai usulan dan permohonan telah disampaikan kepada pemerintah daerah, namun hingga saat ini jembatan yang diimpikan itu belum juga terwujud. Bagi masyarakat setempat, jembatan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan gerbang perubahan yang akan membuka akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, sekaligus mengakhiri perjalanan penuh risiko yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun lamanya.

Kini, warga terus menaruh harapan besar agar perhatian pemerintah segera datang. Dengan adanya jembatan penghubung tersebut, niscaya kehidupan masyarakat di kedua kampung ini akan jauh lebih mudah, aman, dan sejahtera di masa mendatang. (Epy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *