Dari Kampus ke Industri: Harapan Baru Logam Tanah Jarang dari Bangka

Di sebuah ruang rapat di Balai Pimpinan Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung, percakapan itu berlangsung tidak sekadar formalitas. Ada harapan besar yang sedang dirajut—tentang masa depan energi, tentang kemandirian industri, dan tentang peran kampus dalam menjawab tantangan zaman.

Kamis, 9 April 2026, menjadi salah satu titik awalnya.

Hari itu, perwakilan dari PT Perusahaan Mineral Nasional datang untuk membuka penjajakan kerja sama. Bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya awal menyatukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: akademik dan industri.

Di tengah pertemuan, satu isu mengemuka dengan jelas—logam tanah jarang.

Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar teknis dan jauh. Namun di baliknya, tersimpan potensi besar. Logam tanah jarang adalah komponen penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga perangkat energi terbarukan.

Indonesia memilikinya. Bangka Belitung bahkan menyimpannya dalam diam, selama bertahun-tahun.

Namun seperti diakui Kasrin dari tim operasi Perminas, perjalanan menuju pemanfaatan komoditas ini masih panjang.

“Indonesia telah lama melakukan proses pengolahan menuju logam individu, namun hingga kini masih berada pada tahap laboratorium dan riset serta belum berskala komersial,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan realitas yang tak mudah: kekayaan alam belum sepenuhnya menjadi kekuatan industri.

Di sinilah kampus diharapkan hadir.

Wakil Rektor III UBB, Hamsani, melihat penjajakan ini sebagai peluang untuk menghidupkan kembali makna tridarma perguruan tinggi—tidak hanya mengajar dan meneliti, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan industri.

Kerja sama yang dirancang bukan hanya soal penelitian. Ia mencakup pengembangan sumber daya manusia, program magang mahasiswa, hingga riset terapan yang bisa langsung diimplementasikan.

Mahasiswa tidak lagi sekadar belajar di ruang kelas. Mereka diharapkan masuk ke dalam ekosistem industri, memahami proses nyata, dan membawa pulang pengalaman yang tak bisa diperoleh dari buku.

Sementara itu, dari sisi fakultas, kesiapan itu disambut dengan kesadaran akan keterbatasan.

Dekan Fakultas Sains dan Teknik, Eka Sari Wijianti, tidak menampik bahwa sarana, prasarana, dan sumber daya masih perlu diperkuat. Namun justru di situlah kolaborasi menjadi penting.

Kerja sama dengan industri bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Bagi dosen, ini membuka ruang riset yang lebih relevan. Bagi mahasiswa, ini adalah jembatan menuju dunia kerja. Dan bagi kampus, ini menjadi jalan untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman yang cepat.

Di sisi lain, Perminas membawa rencana yang lebih konkret.

Sebuah langkah awal menuju hilirisasi dijadwalkan akan dimulai pada 20 April 2026, melalui pembangunan fasilitas awal di Tanjung Ular, Mentok, Bangka Barat. Groundbreaking ini diharapkan menjadi cikal bakal industri logam tanah jarang di Indonesia.

Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang posisi Indonesia dalam peta teknologi global.

Lebih jauh lagi, pengembangan ini juga menyentuh aspek mineral strategis dan kritis, termasuk material radioaktif yang menjadi bagian dari pengembangan energi masa depan. Sebuah wilayah yang sensitif, tetapi sekaligus menjanjikan.

Pertemuan di kampus itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun gagasan yang lahir darinya melampaui ruang dan waktu.

Di ujung diskusi, kedua pihak sepakat menyiapkan draft nota kesepahaman (MoU). Sebuah dokumen awal yang akan menjadi pijakan kerja sama ke depan.

Namun sesungguhnya, yang sedang dibangun bukan hanya kesepakatan di atas kertas.

Ini adalah upaya menjembatani ilmu dan praktik, potensi dan realisasi, serta harapan dan kenyataan.

Dari Bangka, sebuah cerita baru tentang logam tanah jarang mulai ditulis.

Dan kali ini, kampus tidak lagi berdiri di pinggir—melainkan ikut menjadi bagian dari perjalanan itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *