Mahasiswa Akuakultur UBB Terapkan Team-Based Project di Pokdakan Mitra Mina Mandri Tuatunu

PANGKALPINANG — Puluhan mahasiswa semester 5 Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kelautan (FPPK), Universitas Bangka Belitung (UBB), menjalani praktikum lapangan mata kuliah Manajemen Akuakultur Berkelanjutan di Pokdakan Mitra Mina Mandri, Kelurahan Tuatunu, Pangkalpinang, Selasa, 9 Desember 2025. Kegiatan ini menerapkan model pembelajaran Team-Based Project (TBP), pendekatan kolaboratif yang menempatkan mahasiswa sebagai tim pemecah masalah pada kasus nyata di unit budidaya ikan.

Sejak pagi, mahasiswa sudah terbagi ke tiga fokus kajian berdasarkan sistem kolam yang ada di lokasi: kolam tradisional, kolam semi intensif, dan kolam bioflok. Ketiga sistem dipilih karena merepresentasikan praktik budidaya yang paling banyak digunakan masyarakat di Bangka Belitung—mulai dari pendekatan alami hingga teknologi modern pengolahan limbah organik.

Belajar Langsung dari Lapangan

Di tiap kolam, mahasiswa melakukan eksplorasi menyeluruh, mulai dari observasi, pencatatan kondisi kolam, pengukuran kualitas air, hingga analisis kelayakan dan kesesuaian lahan. Parameter yang diuji meliputi ammonia, nitrit, nitrat, ortofosfat, pH, oksigen terlarut (DO), dan tingkat kekeruhan. Seluruh parameter merupakan indikator penting yang menentukan keberlanjutan kegiatan budidaya, terutama terkait buangan organik dari pakan dan metabolisme ikan.

Dosen pengampu, Dr. Eva Prasetiyono, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa TBP sengaja dipilih karena dapat menghubungkan teori di kelas dengan kondisi nyata di lapangan.

“Melalui model ini, mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi benar-benar mengidentifikasi persoalan di unit budidaya. Mereka mengukur parameter air, menganalisis hasil, lalu menyusun rekomendasi manajemen. Ini bekal penting untuk menghadapi tantangan akuakultur modern,” kata Eva.

Dosen pelaksana praktikum, Agung Riswandi, S.Pi., M.Si., menambahkan bahwa penguasaan parameter kualitas air menjadi fondasi utama dalam keberhasilan budidaya.

“Parameter seperti DO, ammonia, nitrit, dan nitrat sangat menentukan kesehatan ikan. Praktikum lapangan seperti ini memberi mahasiswa pemahaman nyata tentang kapan suatu kolam perlu perbaikan dan tindakan apa yang harus dilakukan,” ujarnya.

Ketua Pokdakan Mitra Mina Mandri, Hendra, menyambut baik kegiatan tersebut. Baginya, kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha perikanan sangat penting dalam pengembangan akuakultur daerah.

“Kami senang menerima mahasiswa UBB. Kegiatan ini bermanfaat bagi dua pihak: mahasiswa mendapat pengalaman nyata, dan kami bisa melihat kondisi kolam dari sudut pandang akademis. Kami terbuka untuk kerja sama yang lebih luas,” ujarnya.

Sejumlah mahasiswa juga mengaku mendapatkan wawasan baru terkait pengelolaan kolam secara berkelanjutan. Mereka merasakan perbedaan besar antara mempelajari teori di kelas dan melihat langsung dinamika kualitas air di lapangan.

Kegiatan praktikum ini menjadi komitmen Prodi Akuakultur UBB untuk menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Dengan TBP, mahasiswa tidak hanya memahami dasar manajemen akuakultur, tetapi juga dilatih dalam kerja tim, pengambilan keputusan, dan penyusunan rekomendasi berbasis data.

Ke depan, UBB berencana memperbanyak kolaborasi serupa dengan pelaku usaha perikanan di Bangka Belitung, sebagai upaya memperkuat kontribusi akademik terhadap pengembangan akuakultur berkelanjutan di daerah.

Pos terkait