Minat Baca Meningkat, Babel Jadi Provinsi dengan Pengunjung Perpustakaan Tertinggi Kedua di Indonesia

BANGKA BELITUNG — Di tengah gempuran era digital, ketika sebagian orang lebih sibuk menatap layar ponsel ketimbang lembaran buku, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung justru menorehkan prestasi membanggakan. Daerah ini tercatat sebagai provinsi dengan indeks literasi tertinggi kedua di Indonesia, menunjukkan bahwa semangat membaca masih menyala di Bumi Serumpun Sebalai.

Data yang dikutip dari babelprov.go.id menyebutkan, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tertinggi nasional pada tahun 2020 diraih oleh Provinsi Kalimantan Selatan dengan skor 48,7. Menyusul di posisi kedua adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan skor 28,83, disusul Gorontalo (28,18), Kalimantan Timur (20,78), dan DKI Jakarta (18,91).

“Bangka Belitung sempat masuk nominasi peringkat kedua tertinggi secara nasional. Ini menunjukkan geliat literasi di Babel sangat baik,” ungkap Suhajar, sebagaimana dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Bangka Belitung juga mencatat skor kegemaran membaca sebesar 77,47, yang merupakan angka tertinggi secara nasional.

Rata-rata masyarakat di provinsi ini mampu menyelesaikan lima hingga enam buku per tahun. Angka ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata nasional, sekaligus menjadi cerminan bahwa budaya membaca di Babel tumbuh dengan baik dari tahun ke tahun.

Hal ini menjadi prestasi yang patut dibanggakan, mengingat tingkat literasi secara umum di Indonesia masih menjadi tantangan besar. “Keberhasilan literasi tidak hanya diukur dari jumlah buku yang dibaca, tetapi juga dari kualitas pemahaman dan dampak sosial yang dihasilkan,” tulis BPS dalam laporannya.

Meski jumlah penduduk Babel relatif kecil dibanding provinsi lain, hal itu tidak menghalangi daerah ini untuk terus berinovasi dalam dunia literasi. Salah satu terobosan dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Babel dengan menghadirkan perpustakaan online, agar masyarakat bisa membaca di mana pun berada.

Kepala DKPUS Babel, Asyraf, menjelaskan bahwa pihaknya juga terus berupaya menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang lebih menarik.

“Mudah-mudahan kita akan munculkan inovasi-inovasi lain dengan melibatkan pihak luar seperti perbengkelan. Misalnya, sambil menunggu servis kendaraan, masyarakat bisa membaca buku di perpustakaan,” ujar Asyraf.

Menurut Nabila, mahasiswi Universitas Bangka Belitung (UBB) jurusan Agribisnis Pertanian, peningkatan minat baca di Babel tak lepas dari peran mahasiswa yang aktif berkunjung ke perpustakaan.

“Sebagian besar pengunjung perpustakaan adalah mahasiswa yang mencari referensi untuk karya tulis ilmiah atau skripsi. Itu yang membuat angka kunjungan terus meningkat,” jelas Nabila.

Ia menambahkan, seiring perkembangan teknologi, perpustakaan kini tak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang kreatif untuk berdiskusi dan belajar bersama. “Perpustakaan sekarang lebih terbuka dan nyaman, baik secara offline maupun online. Itu yang membuat banyak orang tertarik datang,” tambahnya.

Dengan berbagai inovasi dan kesadaran masyarakat yang terus tumbuh, banyak pihak berharap Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat mempertahankan bahkan meningkatkan posisi sebagai salah satu daerah paling literat di Indonesia.

Perpustakaan kini bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan simbol kemajuan dan keinginan masyarakat untuk terus belajar.

“Seiring waktu, akan selalu muncul ide kreatif dan inovasi baru yang membuat minat baca masyarakat Babel terus meningkat,” tutup Nabila optimistis.

Pos terkait