Editor: Bangdoi Ahada
BANGKA TENGAH – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ThorCon di Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah, memantik perdebatan tajam. Pemerintah pusat menyebutnya sebagai lompatan energi masa depan, namun investigasi lapangan memperlihatkan masih banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab, terutama di tingkat masyarakat lokal.
Di atas kertas, proyek ini digadang-gadang menggunakan reaktor generasi baru dengan sistem keamanan berlapis. ThorCon mengklaim desain modular mampu meminimalisasi risiko kecelakaan besar. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya jarak informasi yang lebar antara pengembang, pemerintah daerah, dan warga yang akan hidup berdampingan dengan PLTN tersebut.
Hingga kini, sosialisasi dinilai sangat minim. Sebagian warga bahkan mengaku hanya mendengar kabar tentang PLTN Gelasa lewat pemberitaan media dan obrolan di grup WhatsApp, bukan dari forum resmi yang komprehensif.
“Kami hanya tahu dari televisi dan grup WhatsApp. Tidak ada penjelasan detail yang langsung kami terima, padahal reaktor ini rencananya akan ditempatkan di depan rumah kami,” kata Amirudin, nelayan asal Desa Kurau Barat, Kecamatan Namang, Bangka Tengah.
Minimnya keterbukaan ini kian menebalkan bayangan sejarah kelam industri nuklir dunia. Dari Chernobyl (1986), Three Mile Island (1979), hingga Fukushima Daiichi (2011), dunia menyaksikan bagaimana kelalaian kecil atau bencana alam bisa berujung pada konsekuensi tak terbayangkan.
Masyarakat pun khawatir, tanpa pemahaman yang utuh, mereka hanya dijadikan penonton dari sebuah eksperimen energi berisiko tinggi. Kekhawatiran semakin kuat karena hingga kini belum jelas siapa yang akan bertanggung jawab penuh jika terjadi keadaan darurat. Apakah pemerintah daerah punya kapasitas mitigasi? Atau semua digantungkan pada investor asing?
“Kalau benar ini proyek besar dan aman, kenapa tidak pernah ada forum terbuka yang menjelaskan dari A sampai Z? Kami berhak tahu sebelum diminta menerima,” tegas Suryani, warga Sungai Selan.
Ketidakjelasan ini membuat PLTN Gelasa masih lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada keyakinan. Dengan memori publik atas tragedi nuklir dunia yang belum hilang, kepercayaan masyarakat Bangka Belitung hanya bisa dibangun lewat transparansi penuh, sosialisasi nyata, dan keterlibatan langsung warga dalam setiap pengambilan keputusan.








