27 Juni 1872, Bong A Kin Diangkat sebagai Luitenant der Chineezen di Distrik Koba

Oleh Dato Akhmad Elvian

PANGKALPINANG – Tanggal 27 Juni 1872 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah komunitas Tionghoa di Pulau Bangka. Pada hari itu, Bong A Kin resmi diangkat sebagai Kapitien atau Luitenant der Chineezen untuk Distrik Koba oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menjelaskan bahwa pengangkatan tersebut merupakan bagian dari sistem pemerintahan kolonial yang menempatkan para pemimpin komunitas etnis sebagai perantara antara pemerintah dengan masyarakat yang dipimpinnya.

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Dasar Nederland Tahun 1854 (Wet op de Staatsinrichting van Nederlandsch-Indie), struktur pemerintahan Hindia Belanda berada di bawah Gubernur Jenderal yang dibantu sejumlah lembaga pemerintahan. Di tingkat daerah, residen membawahi para administrateur yang bertugas mengawasi pemerintahan distrik, termasuk para demang dan pejabat komunitas seperti Kapitan Cina, Arab, maupun India.

Dalam sistem tersebut, jabatan Kapitan Cina atau Chinese Officieren terdiri atas tiga tingkatan, yakni Majoor der Chinezen, Kapitein der Chinezen, dan Luitenant der Chinezen. Pengangkatan seseorang pada jabatan tersebut umumnya mempertimbangkan senioritas, pengaruh sosial, prestasi, serta kekuatan ekonomi yang dimiliki di tengah masyarakat.

Menurut Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie, saat Keresidenan Bangka dibagi menjadi sepuluh distrik pada pertengahan abad ke-19, Distrik Koba merupakan salah satu wilayah penting dalam aktivitas pertambangan timah. Bersamaan dengan pengangkatan Bong A Kin sebagai Luitenant der Chineezen pada 27 Juni 1872, jabatan Demang Koba dipegang Bahamin, sementara posisi Administrateur Distrik Koba dijabat I.J. Meeter (tijdelijk).

Keberadaan pejabat Tionghoa di Koba tidak terlepas dari besarnya populasi masyarakat Tionghoa di wilayah tersebut. Berdasarkan catatan Franz Epp dalam buku Schilderungen aus Hollandisch-Ostindien (1852), jumlah penduduk Tionghoa di Distrik Koba mencapai 309 orang dari total 2.332 penduduk.

Sementara itu, penduduk lainnya terdiri atas 1.971 orang pribumi Bangka dan 52 orang Melayu. Mereka tersebar di sekitar 42 kampung yang berada di wilayah Koba, Paku, dan Kayuara.

Franz Epp juga mencatat bahwa industri pertambangan timah menjadi faktor utama berkembangnya komunitas Tionghoa di Koba. Para pekerja tambang asal Tiongkok banyak yang telah menetap secara permanen dan tinggal bersama istri serta anak-anak mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembauran antara masyarakat Tionghoa dan penduduk lokal Bangka telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-19.

Tambang-tambang timah di Distrik Koba saat itu menghasilkan sekitar 800 pikul timah setiap tahun. Aktivitas pertambangan tersebut menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi wilayah sekaligus mendorong terbentuknya komunitas Tionghoa yang cukup besar dan berpengaruh.

Pengangkatan Bong A Kin sebagai Luitenant der Chineezen menjadi bukti penting posisi strategis Koba dalam sejarah pertambangan timah Bangka. Jabatan tersebut tidak hanya mencerminkan struktur pemerintahan kolonial pada masanya, tetapi juga menandai peran besar masyarakat Tionghoa dalam perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah Koba yang jejaknya masih dapat ditemukan hingga kini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *