Ramadan di Balai Kota Pangkalpinang: Saat Kebersamaan, Iman, dan Teknologi Bertemu

PANGKALPINANG – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang terasa berbeda dari biasanya. Para pejabat daerah, camat, lurah, hingga pegawai berkumpul dalam satu ruangan, berbagi senyum dan cerita sambil menunggu azan Magrib berkumandang, Kamis (5/3/2026).

Sore itu, Wali Kota Pangkalpinang, Prof Saparudin atau yang akrab disapa Prof Udin, menggelar kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda tahunan di bulan suci Ramadan, tetapi juga ruang mempererat hubungan antarpemangku kebijakan di lingkungan pemerintahan.

Sekretaris Daerah, para pejabat eselon II, jajaran Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan, serta para camat dan lurah se-Kota Pangkalpinang turut hadir dalam kebersamaan tersebut. Di antara mereka, tampak pula sejumlah anak-anak panti asuhan dan yatim piatu yang diundang untuk merasakan hangatnya kebersamaan Ramadan di Balai Kota.

Bagi Prof Udin, kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar acara seremonial. Ia melihat momentum Ramadan sebagai kesempatan untuk memperkuat silaturahmi sekaligus membangun semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas pemerintahan.

“Momentum Ramadan ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk mempererat kebersamaan dan meningkatkan semangat dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan kerja di lingkungan pemerintahan tidak seharusnya hanya sebatas koordinasi formal. Lebih dari itu, diperlukan rasa kekeluargaan yang kuat agar setiap program pembangunan dapat berjalan dengan baik.

“Kita ingin hubungan yang terjalin ini bukan sekadar kerja sama biasa, tetapi menjadi sebuah keluarga yang saling mendukung dan saling menguatkan,” kata Prof Udin.

Di tengah suasana kebersamaan sebelum Bukber, Prof Udin menyampaikan refleksi yang menarik. Ia mengaitkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan perkembangan teknologi modern, khususnya artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Menurutnya, Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga mendorong manusia untuk berpikir, belajar, dan meneliti. Nilai-nilai itulah yang pada akhirnya melahirkan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan.

“Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi orang-orang beriman. Di dalamnya ada dorongan agar manusia terus belajar, berpikir, dan meneliti,” ujarnya.

Ia menilai kemajuan teknologi, termasuk AI, merupakan buah dari kecerdasan manusia yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran manusia.

“Secanggih-canggihnya teknologi, AI tetap hanya alat bantu untuk mempermudah pekerjaan manusia. Manusia tetap memiliki peran utama sebagai khalifah di muka bumi,” katanya.

Menurut Prof Udin, perkembangan teknologi harus tetap dibingkai dengan nilai-nilai etika dan moral. Prinsip kejujuran, keadilan, serta kemaslahatan yang diajarkan dalam Al-Qur’an harus menjadi dasar dalam memanfaatkan teknologi modern.

Tanpa pedoman tersebut, teknologi berpotensi disalahgunakan.

Di sisi lain, ia juga mengakui bahwa teknologi dapat memberikan manfaat besar, termasuk dalam mempermudah masyarakat mempelajari Al-Qur’an melalui berbagai platform digital.

“Sekarang Al-Qur’an digital sudah banyak membantu orang untuk belajar dan memahami isi Al-Qur’an dengan lebih mudah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tetap memiliki keterbatasan. AI hanya mampu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat teknis dan lahiriah, tetapi tidak mampu menyentuh dimensi batiniah manusia.

Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran pemerintah memanfaatkan bulan Ramadan untuk memperdalam nilai-nilai spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

“Di bulan Ramadan ini marilah kita isi dengan banyak kebaikan. Mari terus mengkaji Al-Qur’an, mentadaburi, dan menjadikannya pedoman hidup,” katanya.

Pesan tersebut juga disampaikan dalam rangka menyambut peringatan malam Nuzulul Qur’an, peristiwa pertama kali diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW pada malam 17 Ramadan.

Bagi Prof Udin, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum refleksi di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Menjelang azan Magrib, tausiah singkat dan doa bersama dipanjatkan. Setelah itu, para peserta menikmati hidangan berbuka puasa dalam suasana penuh keakraban.

Di Balai Kota Pangkalpinang sore itu, Ramadan menghadirkan lebih dari sekadar kebersamaan. Ia menjadi ruang pertemuan antara iman, ilmu, dan teknologi—sebuah pengingat bahwa kemajuan zaman tetap harus berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritual.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *