Jejak Malam di Koba: Pajero Putih, Balok Timah, dan Sunyi Penegakan Hukum

Koba, Bangka Tengah — Sabtu malam yang mestinya biasa di Koba berubah menjadi ganjil. Sebuah Pajero Sport putih, kendaraan yang lazim diasosiasikan dengan mobil keluarga atau pejabat, justru terekam mengangkut balok-balok timah—komoditas strategis yang selama ini menjadi sumber konflik, pelanggaran, dan permainan gelap di Bangka Belitung.

Foto yang beredar luas memperlihatkan balok timah tersusun rapi di bagian dalam kendaraan. Bukan karung sayur, bukan barang rumah tangga. Balok timah—bentuk akhir yang umumnya hanya muncul setelah melalui proses peleburan dan siap masuk jalur distribusi. Fakta ini sendiri sudah cukup memantik tanda tanya besar: legal atau tidak?

Hingga kini, tak satu pun pihak tampil ke depan mengakui kepemilikan barang tersebut. Tak ada dokumen yang ditunjukkan ke publik. Tak ada keterangan terbuka soal asal-usul timah, siapa pemiliknya, atau ke mana barang itu hendak dibawa.

Sumber yang mengetahui peristiwa ini menyebutkan bahwa aparat tengah “menelusuri” informasi. Namun, penelusuran itu tampak berjalan senyap. Bahkan, ketika dimintai keterangan, salah satu sumber dari lingkar Satgas Timah justru mengarahkan awak media untuk melakukan konfirmasi ke Posko Satgas—bukan memberikan klarifikasi langsung di lapangan.

Sikap ini memunculkan pertanyaan lanjutan: mengapa kasus dengan bukti visual yang jelas justru ditangani dengan kehati-hatian berlapis? Apakah ada sesuatu yang sedang ditunggu, atau justru sesuatu yang sedang dijaga agar tak terbuka?

Praktik pengangkutan timah menggunakan kendaraan pribadi—apalagi kelas mewah—bukan hal sepele. Modus ini kerap dikaitkan dengan upaya penyamaran distribusi agar luput dari pengawasan formal. Jika benar balok tersebut ilegal, maka peristiwa ini bukan hanya soal satu mobil dan satu malam, melainkan potret kecil dari jaringan distribusi yang lebih besar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Satgas Timah maupun aparat penegak hukum mengenai status barang, potensi pelanggaran hukum, maupun langkah penindakan lanjutan.

Peristiwa di Koba ini kembali menegaskan persoalan klasik timah di Bangka Belitung: pengawasan yang rapuh, transparansi yang terbatas, dan publik yang terus dipaksa menunggu kejelasan. Pertanyaannya kini sederhana namun krusial—apakah kasus ini akan benar-benar dibuka sampai ke hulunya, atau kembali menghilang di tengah senyap malam?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *