Elpiji 3 Kg Langka, Warga Resah: Penyaluran Diduga Tak Tepat Sasaran

Bangka — Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali dikeluhkan warga di sejumlah wilayah termasuk di Bangka. Sejak pengecer diperbolehkan kembali menjual elpiji bersubsidi tersebut, distribusi gas menjadi tidak merata. Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas melon itu, bahkan harus rela antre berjam-jam.

“Biasanya mudah didapat, tapi sekarang sering kosong. Kalau ada pun harganya 30 ribu mahal di pengecer,” ujar Imah, warga Sungailiat, Selasa (5/2). Ia mengaku terpaksa membeli dengan harga lebih tinggi karena kebutuhan memasak sehari-hari.

Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya penyaluran yang tidak tepat sasaran gegara pengecer bisa jualan lagi tapi kurang pengawasan sehingga harganya melangit menurut warga. Gas elpiji 3 kg seharusnya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan pelaku usaha mikro. Namun, di lapangan, gas tersebut justru banyak dijual bebas di pengecer dengan harga yang jauh amat jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Boy Yandra, Staf Bupati Bangka Bidang Pembangunan Sumber Daya Manusia, menyebutkan bahwa pemerintah daerah tengah memantau distribusi elpiji bersubsidi ini. “Kami minta pangkalan dan agen menyalurkan sesuai aturan. Akan ada pengawasan ketat untuk mencegah penyelewengan,” tegasnya.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangka mengimbau masyarakat melapor jika menemukan indikasi pelanggaran distribusi. “Kami butuh laporan konkret untuk menindaklanjuti. Pengawasan akan terus kami perkuat,” kata Asep Kadis Disperindag.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah tegas agar distribusi gas elpiji 3 kg kembali normal dan tepat sasaran, sehingga tidak terus membebani masyarakat kecil.

Pos terkait