Suaranusantara.online
SAPEKEN, SUMENEP – Sebuah insiden antara Kepala Desa Sapeken, Joni Junaidi dengan warga bernama Nadia Fega telah dilaporkan ke Polsek Sapeken terkait dugaan kekerasan yang terjadi pada Rabu, 13 Agustus 2025 pukul 16.55 WIB di Jalan Dermaga Baru Sapeken.
Nadia Fega, ketika dikonfirmasi media pada Sabtu (16/8/2025), membenarkan, bahwa dirinya telah mengalami perlakuan tidak layak dari kepala desa.
“Iya benar mas, saya merasa dianiaya oleh kepala desa saya hanya soal pakaian yang menurutnya tidak layak,” ujar Nadia.
Peristiwa bermula saat Nadia sedang makan cilok di Jalan Dermaga Baru Sapeken ketika insiden tersebut terjadi. Nadia telah melaporkan kejadian ini ke Polsek Sapeken.
Di sisi lain, Kepala Desa Sapeken Joni Junaidi membantah melakukan kekerasan.
Saat dikonfirmasi media pada Sabtu (16/8/2025), ia menyatakan hanya memberikan “pelajaran” terkait cara berpakaian Nadia yang menurutnya tidak sesuai norma desa.
“Tangan saya refleks dan mengenai cilok yang dipegang Nadia, sehingga ciloknya berhamburan,” jelasnya menyangkal, tidak adanya niat untuk melakukan kekerasan.
Joni mengaku sudah sering memperingatkan sikap warga tersebut, bahkan menurutnya Nadia pernah membuat surat pernyataan tertulis di kantor Desa Sapeken.
Kapolsek Sapeken, Iptu Taufik Rahman, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya laporan dari warga Sapeken terkait dugaan penganiayaan oleh Kepala Desa Sapeken.
“Iya mas benar, ada laporan warga Sapeken atas dugaan kekerasan,” jelas Iptu Taufik Rahman melalui sambungan telepon WhatsApp
Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barisan Investigasi dan Informasi Keadilan (BIDIK), Didik Hariyanto, berharap pihak kepolisian akan menindaklanjuti laporan tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku terhadap dugaan tindakan Kepala Desa Sapeken.
“Dengan alasan apapun kekerasan yang dilakukan oleh Kepala Desa Sapeken Joni Junaidi tidak dibenarkan,” ungkap Didik kepada media dengan nada keras dan tegas, Sabtu (16/8/2025).
Didik mendesak Iptu Taufik Rahman segera mengusut dugaan kekerasan tersebut dan bertindak tegas agar kasus serupa tidak terulang.
“Kita hidup di negara hukum, tindakan Kepala Desa Sape1ken jangan semena-mena melakukan tindakan di luar batas,” tambahnya.
Peristiwa ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara kebebasan individual dan norma sosial di masyarakat.
Kasus di Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini menunjukkan adanya benturan antara gaya hidup modern dengan nilai-nilai tradisional yang masih dijunjung tinggi di lingkungan desa.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya mencari keseimbangan antara kebebasan berpakaian dan penghormatan terhadap norma setempat, serta pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur hukum yang berlaku tanpa menggunakan kekerasan.
Kasus ini kini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian untuk menentukan tindak lanjut hukum yang tepat berdasarkan bukti dan fakta yang ada.
(GUSNO)








