Sabtu pagi, 24 Januari 2026, Sungailiat akan memulai hari dengan satu agenda penting: Pemilihan Kepala Lingkungan (Pilkaling) serentak. Sejak pukul 07.00 hingga 13.00 WIB, warga dipanggil untuk datang ke TPS—bukan untuk memilih pejabat besar, melainkan sosok yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Di tingkat kelurahan, demokrasi bekerja tanpa sorotan besar. Tak ada panggung megah atau baliho raksasa. Yang ada hanyalah bilik suara, daftar pemilih, dan harapan bahwa suara warga masih menjadi dasar kepemimpinan di lingkungan masing-masing.
Pilkaling serentak ini digelar di sejumlah wilayah Kelurahan Sungailiat, meliputi Lingkungan Nelayan 1, Nelayan 2, Air Kantung, Yos Sudarso, Senang Hati, hingga Parit Pekir. Setiap lingkungan membawa cerita dan tantangannya sendiri—mulai dari kawasan pesisir dengan problem ekonomi rakyat kecil, hingga wilayah permukiman yang bergulat dengan urusan sosial sehari-hari.
Bagi warga, kepala lingkungan bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah penghubung pertama antara rakyat dan pemerintah, tempat mengadu ketika bantuan tak kunjung datang, atau ketika konflik bertetangga perlu dilerai sebelum membesar.
Karena itu, Pilkaling bukan soal siapa menang dan siapa kalah semata. Ia adalah soal kepercayaan—apakah warga masih percaya bahwa memilih bisa menghadirkan perubahan, sekecil apa pun itu.
Pemerintah Kelurahan Sungailiat menaruh harapan besar pada partisipasi masyarakat. Sosialisasi dilakukan, ajakan disebarkan, dengan satu pesan utama: demokrasi hanya hidup jika warga hadir. Golput, di tingkat lingkungan, bukan sekadar angka statistik. Ia bisa berarti putusnya hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin sejak hari pertama.
Di gang-gang Nelayan, lorong Air Kantung, hingga Parit Pekir, Sabtu nanti akan menjadi momen penentuan. Sunyi atau ramainya TPS akan menjadi cermin: seberapa kuat ikatan warga dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Sungailiat sedang diuji—bukan oleh konflik besar atau kebijakan pusat—melainkan oleh kesediaan warganya melangkah ke TPS dan menggunakan hak pilih.
Karena dari lingkungan paling kecil itulah, wajah demokrasi sesungguhnya terlihat.








