Tertangkap kamera Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Sapeken, Herman, posisi tengah sebelah kiri memakai baju hem putih, memantau keberangkatan kapal perintis dari pelabuhan Sapeken
Suaranusantara.online
SAPEKEN, MADURA – Napas lega akhirnya terhembus dari ribuan warga kepulauan Sapeken. Setelah berhari-hari terisolasi akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Madura, kapal perintis penghubung jalur vital Banyuwangi-Sapeken-Kangean-Kalianget kembali menggeliat sejak Jumat, 17 Januari 2026.
Gangguan cuaca buruk yang sempat melumpuhkan aktivitas pelayaran selama hampir seminggu itu kini berangsur membaik, membawa angin segar bagi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat kepulauan yang selama ini bergantung penuh pada transportasi laut.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Sapeken, Herman, melalui anggotanya memberikan kabar menggembirakan terkait perkembangan kondisi cuaca terkini di perairan setempat.
“Sementara kondisi cuaca dari tanggal 17 sampai saat ini, Senin, 19 Januari 2026, lumayan aman saja dan cuaca agak menurun. Saya lihat di aplikasi BMKG semua hijau,” ungkap anggota Kantor Syahbandar Sapeken dalam sambungan telepon WhatsApp, Senin (19/1/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal positif bahwa gelombang tinggi dan angin kencang yang sempat mengancam keselamatan pelayaran sudah mulai mereda dalam tiga hari terakhir.
“Ini Semua Demi Keselamatan Bersama”
Berbicara soal kebijakan penundaan kapal, pihak syahbandar dengan tegas menyampaikan pesan penting kepada masyarakat: keselamatan jiwa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
“Masyarakat harus paham, penundaan keberangkatan kapal beberapa hari lalu semata-mata untuk menjaga keselamatan kita bersama – baik penumpang maupun awak kapal. Ini bukan keputusan yang diambil sembarangan, tapi berdasarkan data meteorologi yang akurat dari BMKG,” tegas pihak syahbandar.
Ia menjelaskan bahwa meski data BMKG menjadi patokan utama, keputusan operasional kapal tetap mempertimbangkan berbagai aspek teknis di lapangan.
“Kalau dari BMKG mungkin tidak ada masalah, tapi semuanya kan kadang tergantung kebijakan pimpinan pelabuhan sendiri-sendiri. Yang pasti patokan tetap dari BMKG. Terkait keberangkatan kapal penumpang, itu semua tergantung kebijakan pimpinan masing-masing karena menyangkut pelabuhan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa koordinasi antar-pelabuhan dan kehati-hatian ekstra menjadi kunci dalam mengambil keputusan pelayaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Kabar yang paling dinanti akhirnya tiba. Kapal Perintis Sabuk Nusantara 91 – kapal andalan yang menjadi urat nadi transportasi laut masyarakat kepulauan – telah kembali mengarungi perairan Madura.
Hingga Senin sore, kapal yang menjadi penyelamat mobilitas ribuan warga ini dilaporkan sudah berlayar dari Pelabuhan Kalianget menuju rute berikutnya, menandai dimulainya kembali pelayanan transportasi laut yang sempat vakum.
Normalisasi pelayaran ini bukan hanya soal perpindahan orang, tetapi juga kelancaran distribusi bahan pokok, obat-obatan, dan kebutuhan vital lainnya yang sempat tersendat akibat isolasi cuaca ekstrem.
Dengan kembali beroperasinya jalur pelayaran, diharapkan roda ekonomi dan kehidupan masyarakat kepulauan dapat kembali berputar normal. Antrian barang dan penumpang yang menumpuk di berbagai pelabuhan perlahan mulai terurai.Namun demikian, otoritas pelabuhan tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah.
“Kami imbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti arahan petugas pelabuhan demi keselamatan bersama dalam setiap perjalanan laut,” tutup pihak syahbandar.
Di balik penundaan yang sempat membuat resah, terdapat komitmen kuat untuk menjaga nyawa setiap jiwa yang berlayar di lautan – sebuah prioritas yang tidak boleh dikompromikan demi apapun.
Catatan Redaksi: Masyarakat dapat memantau update kondisi cuaca maritim melalui aplikasi resmi BMKG atau menghubungi kantor pelabuhan setempat sebelum melakukan perjalanan laut
(GUSNO)








