WARGA DI HARAP JELI- WASPADA; PENCITRAAN MENJELANG PILKAKAM

 

Oleh : SUPRIYONO
Penggiat Sosial Kontrol

Trimurjo,Lam-Teng
Suaranusantar.Online-

Menjelang Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam), suasana kian memanas. Di antara suara-suara yang bersahutan, ada satu pola yang kerap terlihat: para calon petahana atau incumbent seolah berlomba memamerkan pencapaian program yang sejatinya sudah menjadi agenda wajib pemerintahan kampung dan seluruhnya dibiayai dari anggaran Dana Desa (DD).

Program pemberdayaan maupun pembangunan infrastruktur yang seharusnya menjadi tugas pokok, kini dikemas rapi menjadi “prestasi pribadi” untuk meraih simpati warga.

Namun sayang, tampilan gemilang di atas kertas tak sejalan dengan kenyataan di tanah. Banyak kegiatan yang dijalankan hanya seremonial belaka — sekadar hiasan bibir atau sering disebut “kosmetik pemerintahan”. Setelah acara selesai, pita dipotong, dan foto diambil, apa yang dibangun perlahan hilang tak berbekas.

Khususnya di bidang infrastruktur, hal ini paling terasa. Fisik bangunan yang dibangun tahun demi tahun nyaris tak menyisakan jejak yang kokoh. Pelaksana pekerjaan maupun pengelola anggaran lebih mengutamakan keuntungan pribadi daripada kualitas dan ketahanan hasil karya.

Contoh nyata dapat dilihat pada kegiatan Peningkatan Badan Jalan (Lapen). Dengan anggaran yang mencapai ratusan juta rupiah, hasilnya sungguh memprihatinkan: jalan yang baru saja dikerjakan kembali rusak parah hanya dalam waktu dua hingga tiga bulan. Bagian permukaan yang sudah diperbaiki terkelupas, permukaan tak rata, dan kondisi jalan kembali amburadul seolah tak pernah tersentuh perbaikan.

Lantas, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kerugian dan pemborosan uang rakyat ini? Ironisnya, petahana justru menjual program yang rapuh itu sebagai bukti keberhasilan kepemimpinannya. Ia mempropagandakan kepada warga seolah-olah banyak hal besar telah dikerjakan selama masa jabatannya — padahal kenyataannya, apa yang dibangun cepat runtuh dan warga tetap kesulitan.

Oleh karena itu, kepada seluruh warga, mari kita lebih jeli dan cermat. Jangan terbuai oleh tampilan permukaan atau janji manis yang tak terbukti. Kita harus mampu membedakan antara kinerja nyata yang bertahan lama dengan pencitraan yang hanya indah sesaat.

Masih ada sosok-sosok lain yang mungkin lebih tulus, lebih mampu, dan lebih peduli pada kemaslahatan kampung. Mengapa kita harus terus terpedaya oleh wajah yang sama, yang sudah lama berkuasa namun hasilnya tak nyata?

Pilkakam bukan sekadar memilih nama yang dikenal, melainkan memilih siapa yang mampu menjaga amanah, mengelola keuangan dengan jujur, dan membangun karya yang bermanfaat hingga ke masa depan. Jangan biarkan kesempatan ini berlalu sia-sia. Tangan kita, suara kita, menentukan masa depan kampung kita sendiri.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *