Oleh: Sukmiridiyanto,S.Sos.M.I.P.
Lam-Teng,Suaranusantara.Online-
Seringkali kita terjebak dalam perlombaan yang tak berujung: berlomba menduduki peringkat teratas, berlomba mendapat pengakuan paling tinggi, berlomba disebut sebagai yang paling hebat. Seolah-olah nilai diri kita hanya terukur dari seberapa sering kita berdiri di barisan paling depan, seberapa banyak pujian yang mengalir kepada kita, atau seberapa sering nama kita disebut sebagai yang nomor satu. Padahal ada perbedaan sangat mendasar antara memberikan yang terbaik dan berusaha menjadi yang terbaik.
Menjadi yang terbaik berpusat pada diri sendiri: pada nama, pada jabatan, pada kemenangan pribadi, pada penilaian orang lain atas diri kita. Seringkali di tengah jalan, niat itu bisa berubah menjadi persaingan tak sehat, melupakan orang lain, bahkan rela mengorbankan prinsip asal mampu menyalip yang lain.
Sedangkan memberikan yang terbaik berpusat pada tujuan dan sesama: pada tugas yang dipercayakan, pada orang yang kita layani, pada amanah yang kita emban. Ia lahir dari kesadaran bahwa apa yang kita kerjakan memiliki makna bagi orang lain, terlepas apakah kita akan dipuji atau tidak, apakah kita akan dianggap nomor satu atau bukan.
Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati bukan untuk menjadi guru paling populer, tapi agar muridnya benar-benar paham dan berkarakter baik. Seorang petugas yang melayani dengan sabar bukan untuk mendapat penghargaan, tapi agar warga yang datang merasa terbantu dan dihargai. Seorang pemimpin yang bekerja keras bukan untuk disebut pemimpin paling hebat, tapi agar rakyatnya hidup lebih layak.
Ketika kita bekerja hanya untuk menjadi yang terbaik, kecewa akan mudah menghampiri saat ada yang lebih unggul, saat pujian tak kunjung datang, atau saat kita tak dipilih orang. Namun ketika kita memberikan yang terbaik, hati kita tetap tenang meski tak ada tepuk tangan. Kita sudah memenuhi panggilan hati, sudah menjalankan kewajiban dengan sepenuh jiwa, dan itulah kemenangan sejati.
Dunia memang sering memuja mereka yang duduk di puncak. Namun dunia lebih membutuhkan mereka yang tulus memberi tanpa mengharap posisi istimewa. Jadilah seperti matahari: ia memberikan cahaya terbaiknya untuk semua makhluk, bukan untuk berebut menjadi bintang yang paling terang. Jadilah seperti sungai: mengalirkan air terbaiknya menghidupi ladang dan perkampungan, bukan untuk menjadi air yang paling dipuji.
Jangan biarkan ambisi menjadi penghalang ketulusanmu. Berikanlah waktu, tenaga, pikiran, dan ketulusan terbaikmu, bukan karena ingin diakui paling hebat, tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.
Karena kemenangan yang sejati bukanlah saat kau berdiri sendirian di puncak, melainkan saat kau tahu kau sudah memberi yang terbaik, dan itu bermanfaat bagi banyak orang.***








