BANGKA SELATAN — Kunjungan lapangan Panitia Khusus (Pansus) Riset dan Inovasi Daerah DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ke Kawasan Industri Sadai membuka sejumlah catatan kritis. Tidak sekadar agenda peninjauan, kegiatan ini justru memperlihatkan adanya jarak antara perencanaan berbasis dokumen dengan kondisi riil di lapangan.
Ketua Pansus, Pahlivi, menyebut apa yang terlihat di kawasan tersebut menjadi bahan refleksi penting dalam merumuskan arah kebijakan riset daerah. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pijakan kajian sejak awal perencanaan.
“Kalau kita bicara industri strategis, maka fondasinya harus riset yang matang. Tanpa itu, potensi masalah akan muncul di tengah jalan,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini riset kerap diposisikan sebatas pelengkap administratif dalam penyusunan kebijakan. Padahal, dalam praktiknya, riset seharusnya menjadi instrumen utama untuk membaca risiko sekaligus peluang pembangunan.
Dari hasil peninjauan, Pansus melihat belum sepenuhnya terjadi sinkronisasi antara regulasi, kebutuhan daerah, dan dinamika di lapangan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat optimalisasi kawasan industri sebagai penggerak ekonomi.
Pahlivi menegaskan, pengalaman di Sadai tidak boleh berhenti sebagai catatan kunjungan semata. Ia mendorong agar temuan-temuan tersebut dijadikan bahan evaluasi konkret dalam penyusunan kebijakan riset dan inovasi ke depan.
“Riset itu bukan dokumen yang selesai di meja. Ia harus hidup dan dipakai sebagai panduan dalam setiap keputusan,” katanya.
DPRD berharap, ke depan setiap rencana pengembangan kawasan industri benar-benar didahului kajian komprehensif. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya ambisius di atas kertas, tetapi juga relevan dan berkelanjutan di lapangan.








