Dari Lapas Menuju Pribadi Lebih Baik, Rumah Tahfidz Az-Zikra Diresmikan

PANGKALPINANG – Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai Safari Ramadan yang dirangkaikan dengan peresmian Rumah Tahfidz Az-Zikra di Lapas Perempuan Pangkalpinang, Rabu sore. Momentum bulan suci menjadi latar spiritual penguatan pembinaan keagamaan bagi warga binaan perempuan.

Kepala Lapas Perempuan Pangkalpinang, Rina Stiari, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Gunawan Sutrisnadi, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak terhadap pembentukan Rumah Tahfidz tersebut. Ia menyoroti kondisi psikologis warga binaan yang harus menjalani masa pembinaan jauh dari keluarga.

“Mereka di sini meninggalkan anak, meninggalkan suami. Itu bukan hal mudah. Tapi kita lihat tadi, mereka tetap tersenyum dan semangat. Inilah yang terus kami jaga, agar ada kebahagiaan di tengah keterbatasan,” ujarnya.

Gunawan berharap masyarakat mengetahui bahwa proses pembinaan di lapas tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritual.

“Kami berharap teman-teman media juga menyampaikan bahwa warga binaan perempuan di sini punya semangat luar biasa untuk berubah menjadi lebih baik,” katanya.

Firmantasi, Kepala Kementerian Agama Kota Pangkalpinang juga menegaskan pentingnya pendidikan agama sebagai fondasi pembinaan. Menurutnya, Rumah Tahfidz bukan sekadar tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi ruang pembentukan karakter.

“Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Belajar Al-Qur’an menjadi jalan untuk membentuk pribadi yang lebih kuat ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Gunawan Sutrisnadi, menekankan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan harus berorientasi pada pemulihan martabat manusia.

Ia menilai keberadaan Rumah Tahfidz Az-Zikra menjadi simbol bahwa pembinaan tidak hanya menyentuh aspek lahiriah, tetapi juga membangun kekuatan batin.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menyampaikan salam dari Wali Kota yang berhalangan hadir.

Dalam suasana penuh keakraban, Dessy mengaku terharu melihat semangat warga binaan yang tetap ceria.

“Saya tadi melihat sendiri ibu-ibu tetap semangat. Itu luar biasa. Insya Allah ketika kembali ke keluarga nanti, pulang sebagai pribadi yang lebih baik,” ujarnya.

“Tujuan kita bersama adalah memanusiakan manusia. Ketika nanti kembali ke tengah masyarakat, warga binaan harus pulang dengan bekal nilai dan akhlak yang lebih baik,” katanya.“

Ia juga meminta doa agar Pangkalpinang menjadi kota yang jujur, aman, dan damai.

“Doakan kami agar bisa menjalankan amanah dengan baik dan diberi keselamatan dalam memimpin,” katanya sebelum meresmikan Rumah Tahfidz Az-Zikra dengan mengucapkan basmalah.

Usai acara, dalam wawancara bersama wartawan, Dessy menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembinaan warga binaan.

“Kami terus memberikan semangat kepada mereka. Di sini ada banyak pelatihan yang bisa diikuti, mulai dari pelatihan keterampilan hingga pelatihan make-up dan program kreatif lainnya. Ini menjadi sesuatu yang unik dan positif,” ujarnya.

Ia berharap seluruh program tersebut menjadi bekal nyata bagi warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Harapannya, ketika mereka kembali, mereka sudah memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk mandiri dan menjalani kehidupan yang lebih baik,” tambahnya.

Rangkaian acara ditutup dengan tausiyah Ustadz Kurnia yang mengajak warga binaan membangun kecantikan dari dalam diri.

“Kalau cantik di luar, hari ini bisa pakai make-up terbaik. Tapi itu sementara. Cantik yang sesungguhnya adalah cantik hati,” ujarnya.

Menurutnya, belajar Al-Qur’an adalah gerbang membentuk pribadi yang agung dan salehah. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu” — sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

“Siapa tahu nanti setelah keluar dari sini, justru ibu-ibu menjadi pengajar Al-Qur’an bagi anak-anak dan keluarga di rumah,” tuturnya.

Peresmian Rumah Tahfidz Az-Zikra menjadi simbol harapan baru bagi warga binaan perempuan di Pangkalpinang — bahwa di balik tembok pembatas, tetap tumbuh semangat memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menyiapkan bekal untuk kembali ke masyarakat dengan lebih percaya diri dan mandiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *