Direktur Utama PDAM Sumenep, Febmi Noerdiansyah
Suaranusantara.online
SUMENEP, JAWA TIMUR – Air bersih bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak dasar setiap warga. Menyadari hal itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sumenep tak tinggal diam.
Di tahun 2026 ini, perusahaan pelat merah tersebut meluncurkan serangkaian rencana strategis yang ambisius demi memastikan setiap tetes air yang mengalir ke rumah warga benar-benar berkualitas, aman, dan berkelanjutan.
Salahsatu tantangan terbesar yang dihadapi PDAM Sumenep saat ini adalah kondisi jaringan perpipaan yang sudah menua. Sebagian besar pipa yang terpasang – baik di wilayah daratan maupun kepulauan – telah berumur cukup panjang dan rentan mengalami kerusakan yang berujung pada kebocoran.
“Karena pipa yang kami miliki sebagian sudah lama dan rawan hantaman yang menyebabkan kebocoran,” ungkap Direktur Utama PDAM Sumenep, Febmi Noerdiansyah, Rabu (11/02/2026).
Untuk menangani masalah ini secara terukur, PDAM Sumenep menggandeng PDAM Surabaya sebagai mitra kajian teknis. Bersama-sama, keduanya akan memetakan titik-titik permasalahan pada jaringan perpipaan dan peralatan yang ada – hasil kajian ini nantinya menjadi peta jalan peremajaan infrastruktur secara menyeluruh.
“Kami juga sudah melakukan kajian sebelumnya. Namun jika nantinya Kementerian PU turut melakukan kajian serupa, kami persilakan,” tambah Febmi.
Tak hanya soal pipa, PDAM Sumenep juga bergerak lebih jauh dengan memperkuat sisi hulu – yakni ketersediaan air baku. Rencana ini sebenarnya sudah dimatangkan sejak 2025, ketika survei geolistrik mulai digelar untuk mencari titik-titik potensial sumber air tanah.
Hasilnya cukup menjanjikan. Lima titik berhasil diidentifikasi – empat di antaranya tersebar di kawasan perkotaan dan sekitarnya, sementara satu titik lainnya berada di Kecamatan Pragaan. Data tersebut kini telah diserahkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk ditindaklanjuti dengan proses pengeboran.
“Karena pelanggan terus bertambah, kami butuh debit tambahan. Meskipun yang kami miliki kini sudah cukup, air baku ini menjadi persiapan ketika nanti mengalami kekurangan,” tegas Febmi.
Setelah pengeboran rampung, PDAM juga akan langsung melengkapinya dengan motor pompa air dan infrastruktur distribusi agar pasokan bisa segera dialirkan kepada pelanggan.
Satu rencana lain yang tak kalah menarik adalah pembangunan daerah tangkapan air di Telaga Kermata. Selama ini, setiap musim hujan tiba, air yang melimpah justru terbuang sia-sia hingga meluap ke jalanan. Potensi besar itu pun belum termanfaatkan secara optimal.
Dengan membangun infrastruktur tangkapan air di lokasi tersebut, PDAM berencana menampung dan mendistribusikan air secara lebih efektif – tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga pelanggan, tetapi juga untuk mengairi lahan pertanian masyarakat sekitar.
“Termasuk ketika musim kemarau, persediaan air akan semakin banyak,” kata Febmi penuh keyakinan.
Uji Mutu Rutin dan Sertifikasi Halal, Bentuk Nyata Perlindungan Konsumen
Di sisi kualitas, PDAM Sumenep juga menegaskan komitmennya untuk menjaga standar air yang aman dikonsumsi.
Uji kualitas air akan dilakukan secara berkala setiap tiga hingga empat bulan sekali sebagai bagian dari sistem jaminan mutu yang terstruktur.
“Setiap tiga atau empat bulan kami akan melakukan uji kualitas air bersih untuk menjamin mutunya. Ini juga bagian dari perlindungan terhadap konsumen,” tegasnya.
Lebih dari itu, PDAM Sumenep bahkan berencana mengajukan sertifikasi halal – sebuah langkah yang terbilang progresif dan mencerminkan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat Muslim di Sumenep yang mayoritas taat beragama.
Dengan deretan rencana besar ini, PDAM Sumenep tampak serius menjawab tantangan layanan air bersih yang kian kompleks.
Kini, tinggal bagaimana eksekusi di lapangan berjalan sesuai target – dan masyarakat Sumenep tentu berhak menagih janji-janji tersebut.
(GUSNO)








