Suaranusantara.online
SUMENEP, JAWA TIMUR – Suara haru mengalir dari puncak kepemimpinan salah satu rumah sakit terbesar di Madura. dr. Erliyati, Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, melontarkan pernyataan yang menampar kesadaran publik: tidak ada satu pun pencapaian profesional, termasuk gelar dokter dan posisi strategisnya yang bisa diraih tanpa jasa guru.
“Selamat Hari Guru 2025. Semoga selalu menjadi pelita dalam kegelapan dan telah memberi ilmu sehingga kami sampai di titik ini,” ucap dr. Erliyati dalam pernyataan resmi kepada Kepala Seksi Informasi, 25 November 2025.
Kata-katanya bukan sekadar basa-basi seremonial, melainkan pengakuan jujur dari seorang profesional yang paham betul: tanpa guru, tidak ada dokter, tidak ada direktur, tidak ada pemimpin.
Dalam pandangan direktur berpengalaman ini, sosok guru jauh melampaui definisi kaku sebagai pengajar di kelas. Mereka adalah arsitek karakter, penanam nilai-nilai fundamental yang menjadi pondasi kokoh kehidupan seseorang. Dari tangan merekalah lahir para profesional di berbagai bidang, tak terkecuali tenaga medis yang kini berjibaku di garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kami paham bahwa belajar adalah proses tanpa akhir dan setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh,” tegas dr. Erliyati, menusuk langsung ke jantung masalah: di era yang berubah secepat kilat, ilmu tidak berhenti di bangku sekolah.
Pernyataan ini bukan retorika kosong. Sebagai pemimpin rumah sakit yang menghadapi dinamika dunia medis, dari pandemi yang menghancurkan sistem kesehatan hingga inovasi teknologi yang terus bermunculan, dr. Erliyati memahami bahwa ilmu harus terus diperbarui. Setiap tantangan baru adalah ujian. Dan ujian itu hanya bisa dilalui oleh mereka yang tidak pernah berhenti belajar.
“Di era yang terus berubah, ilmu tidak berhenti di bangku sekolah, tetapi terus berkembang seiring tantangan yang datang,” tambahnya dengan keyakinan penuh.
Pesan dari pimpinan RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep ini menampar keras mereka yang menganggap guru hanya sebagai profesi biasa. Tidak. Guru adalah pelita dalam kegelapan, pemberi nyala kehidupan, dan penentu arah peradaban. Warisan terbesar mereka bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi penanaman semangat untuk terus bertumbuh dan menghadapi setiap rintangan sebagai peluang emas berkembang.
Pertanyaannya kini: sudahkah kita menghargai mereka sebagaimana mestinya?
(GUSNO)








