SMA Negeri 1 Puding Besar Kunjungi Rumah Dinas Residen, Ketua TP PKK Ajak Siswa Gali Sejarah Pangkalpinang

PANGKALPINANG — Rumah Dinas Residen Wali Kota Pangkalpinang, Senin (27/10/2025) siang, menjadi saksi keakraban antara jajaran Pemerintah Kota Pangkalpinang dan puluhan siswa SMA Negeri 1 Puding Besar. Dalam kunjungan edukatif tersebut, para siswa diajak mengenal langsung sejarah peninggalan kolonial Belanda di kawasan Pangkalpinang.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk kunjungan belajar lapangan itu dihadiri oleh Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Hj. Susanti, didampingi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Plt. Kepala Dinas Pariwisata, serta Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan. Turut hadir Ahmad Elvian, sejarawan Bangka Belitung yang memberikan pemaparan sejarah kepada para pelajar.

Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Hj. Susanti menyampaikan apresiasi atas inisiatif pihak sekolah yang mengajak siswanya belajar langsung di lingkungan bersejarah. Ia menilai kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta terhadap daerah sendiri.

“Kita bersyukur diberi kesempatan untuk berkumpul dan belajar bersama. Anak-anak hari ini bisa mengenal sejarah peninggalan Belanda secara langsung, khususnya di rumah dinas ini. Silakan bertanya dan gali pengetahuan sebanyak-banyaknya dari narasumber,” ujar Susanti.

Ia juga berpesan agar para siswa mempersiapkan diri menghadapi ujian praktik kerja lapangan (PKL) dan menatap masa depan dengan semangat belajar.

“Semoga kunjungan ini memberi inspirasi untuk terus belajar, agar nantinya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menjadi generasi yang berkontribusi bagi Pangkalpinang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Puding Besar, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat Pemerintah Kota Pangkalpinang. Ia menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran sejarah dan pengenalan lembaga pemerintahan.

“Alhamdulillah, hari ini anak-anak bisa melihat langsung rumah dinas wali kota yang selama ini hanya mereka lihat dari luar. Ini pengalaman baru bagi mereka untuk mengenal sejarah bangunan yang istimewa ini,” ujarnya.

Selain ke Rumah Dinas Residen, rombongan yang terdiri dari 125 siswa SMA Negeri 1 Puding Besar juga mengunjungi kantor DPRD Provinsi Babel dan Kodim 0413/Bangka, guna mengenal lebih dekat lembaga pemerintahan dan pertahanan. Rencana kunjungan ke Polda Babel sempat tertunda karena bertepatan dengan acara serah terima jabatan Kapolda.

“Kami ingin anak-anak belajar bahwa sejarah dan pemerintahan bisa mereka pahami dari dekat, bukan hanya lewat buku. Siapa tahu 10 atau 15 tahun di antara mereka nanti ada yang jadi anggota dewan, TNI, atau pemimpin daerah,” ujarnya penuh harap.

Menariknya, dalam sesi pemaparan sejarah, sejarawan Ahmad Elvian membawa para siswa menelusuri kisah penting perjuangan rakyat Bangka melawan kolonial Belanda. Ia menyebut, salah satu peristiwa bersejarah terjadi di Sungai, kawasan di sekitar Puding Besar.

“Di Sungai itu pada tahun 1819 terjadi peristiwa besar: pembunuhan Presiden Belanda yang saat itu memimpin wilayah Bangka. Peristiwa ini dipimpin oleh Depati Bahrin bersama Batin Tikal dan Juragan Islam,” tutur Elvian.

Kisah itu, lanjutnya, menjadi simbol perlawanan rakyat Bangka terhadap kolonialisme dan menegaskan peran penting wilayah Bangka dalam sejarah nasional. Ia pun mengaitkan cerita tersebut dengan pentingnya melestarikan situs-situs sejarah seperti Rumah Dinas Residen, yang dulu dikenal sebagai kediaman pejabat Belanda.

“Rumah ini bukan sekadar bangunan tua. Ini saksi bisu dari perjalanan panjang Pangkalpinang, dari masa kolonial hingga menjadi kota yang kita kenal sekarang,” ujar Elvian.

Kegiatan kunjungan ini berlangsung interaktif dan penuh semangat. Para siswa tidak hanya mendengarkan cerita sejarah, tetapi juga berdiskusi langsung dan berfoto bersama di area rumah dinas yang masih mempertahankan arsitektur klasiknya.

Dari ke dua puluh lima guru pendamping, salah satu guru SMA Negeri 1 Puding Besar menilai pengalaman ini akan memperkaya pengetahuan siswa di luar bangku kelas. “Belajar sejarah tidak hanya membaca, tetapi juga merasakan. Hari ini anak-anak belajar sejarah yang hidup,” tutupnya.

Pos terkait